klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Launching dan Simposium UNITABAH: Meneguhkan Transformasi Perguruan Tinggi Berbasis Pesisir dan Pesantren

avatar Rozy
  • URL berhasil dicopy
Universitas Tarbiyatut Tholabah (UNITABAH) Lamongan secara resmi meluncurkan identitas dan paradigma keilmuan barunya melalui gelaran Launching dan Simposium Transformasi Perguruan Tinggi.
Universitas Tarbiyatut Tholabah (UNITABAH) Lamongan secara resmi meluncurkan identitas dan paradigma keilmuan barunya melalui gelaran Launching dan Simposium Transformasi Perguruan Tinggi.

KLIKJATIM.Com | Lamongan – Universitas Tarbiyatut Tholabah (UNITABAH) Lamongan secara resmi memasuki babak baru dalam perjalanan kelembagaannya. Melalui gelaran Launching dan Simposium Transformasi Perguruan Tinggi di Desa Kranji, Paciran, lembaga ini meneguhkan peralihan sejarahnya yang bermula dari STIT Sunan Giri, STAI Sunan Drajat, IAI Tarbiyatut Tholabah, hingga kini sah menyandang status universitas.

Rektor UNITABAH, Dr. Alimul Muniroh, M.Ed., menegaskan bahwa perubahan status ini merupakan bentuk tanggung jawab moral dan akademik yang jauh lebih besar bagi seluruh civitas akademika.

“Peresmian ini bukan sekadar perayaan kelahiran universitas, melainkan peneguhan atas proses panjang yang telah dilalui. Status universitas membawa tanggung jawab untuk memperkuat integrasi keilmuan, membangun daya saing global, serta tetap dekat dengan masyarakat tanpa melepaskan nilai-nilai pesantren dan keislaman sebagai roh lembaga,” ujar Alimul Muniroh saat memberikan sambutan.

Dukungan serupa disampaikan oleh Ketua Yayasan Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah, Drs. H. Fathur Rahman. Ia menilai keberadaan universitas di kawasan Pantura ini merupakan aset berharga bagi masyarakat lokal.

“Kami berharap UNITABAH mampu mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga berakhlakul karimah dan bermanfaat bagi masyarakat. Pengembangan program studi umum juga harus terus didorong agar sejalan dengan kebutuhan masyarakat pesisir,” tuturnya.

Apresiasi tinggi turut mengalir dari Wakil Koordinator Kopertais Wilayah IV Surabaya, Dr. KH. Ilhamullah Sumarkan, M.Ag., yang menekankan pentingnya peningkatan mutu SDM seiring dengan perubahan kelembagaan.

“Status universitas harus diikuti dengan peningkatan kualitas, penguatan jejaring, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kami juga mengapresiasi 11 dosen UNITABAH yang baru saja memperoleh sertifikasi sebagai bagian penting penguatan mutu akademik,” ungkap Ilhamullah.

Kemeriahan prosesi peresmian ditandai dengan peluncuran logo serta paradigma keilmuan baru, pemutaran linimasa sejarah, penandatanganan kerja sama dengan Karang Taruna Kabupaten Lamongan, hingga penyerahan draft MoU kepada PT Multi Hanna Kreasindo Tbk.

Hadir memberikan pidato kebangsaan, Anggota DPD/MPR RI 2024–2029, Dr. Hj. Lia Istifhama, S.Sos.I., S.Sos., S.H.I., M.E.I., menggarisbawahi pentingnya penguatan kapasitas mahasiswa di kawasan pesisir.

“Pendidikan memiliki peran vital dalam membangun peradaban bangsa. Mahasiswa UNITABAH harus dibekali karakter kepemimpinan, literasi hukum, serta literasi digital yang kuat agar siap menjadi generasi pemimpin masa depan,” tegas Lia Istifhama.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan simposium bertema “Pendidikan Tinggi Berbasis Pesisir dan Pesantren: Menguatkan Kemerdekaan, Membangun Peradaban”.

Dalam simposium tersebut, Prof. Dr. H. Hasyim Muhammad, M.Ag. mengingatkan bahwa perguruan tinggi berbasis pesisir harus senantiasa adaptif dan peka membaca kebutuhan riil warga. Sementara itu, Prof. Dr. H. Achmad Muhibin Zuhri, S.Ag., M.Ag. mendorong UNITABAH bertransformasi menjadi community-based education yang membawa nilai adaptif pesantren di era Society 5.0.

Melengkapi sudut pandang ekologis, Prof. Dr. Sri Warjiyati, M.H. menyoroti pentingnya perlindungan lingkungan bagi nelayan dan masyarakat pesisir. Ia mendorong lahirnya pusat studi hukum lingkungan pesisir, riset partisipatif, serta menjadikan pesantren sebagai ruang edukasi isu iklim.

Melalui momentum ini, UNITABAH membuktikan komitmennya untuk terus mengabdi dari pesisir Pantura Lamongan—memperluas jejaring keilmuan dan melayani masyarakat tanpa pernah mencabut akar tradisi pesantren.

Editor :