klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Tak Hanya Kopi, Kakao Jatim Jadi Komoditas Bernilai Tinggi dengan Harga Ekspor Fantastis

avatar Much Taufiqurachman Wahyudi
  • URL berhasil dicopy
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur, Ibrahim dalam Media Briefing Triwulan II 2026 di Surabaya
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur, Ibrahim dalam Media Briefing Triwulan II 2026 di Surabaya

KLIKJATIM.Com | Surabaya - Jawa Timur terus memperkuat posisinya sebagai salah satu sentra perkebunan unggulan nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2026, provinsi ini menjadi produsen terbesar kopi dan kakao di Pulau Jawa dengan kontribusi masing-masing mencapai 71 persen dan 26 persen dari total produksi kedua komoditas tersebut di Jawa.

Selain kopi dan kakao, Jawa Timur juga menyumbang sekitar 3 persen produksi teh di Pulau Jawa. Sepanjang 2026, produksi kopi Jawa Timur tercatat mencapai 53,25 ribu ton, kakao 10,56 ribu ton, dan teh 2,14 ribu ton.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, mengatakan besarnya produksi tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat daya saing ekspor dan pengembangan industri hilir.

“Jawa Timur memiliki keunggulan strategis sebagai produsen utama kopi dan kakao di Pulau Jawa. Kedua komoditas ini memiliki potensi produksi yang besar sekaligus menunjukkan kinerja ekspor yang cukup tinggi,” ujarnya dalam Media Briefing Triwulan II 2026 di Surabaya, Senin (22/6/2026).

Menurut Ibrahim, peluang pengembangan komoditas perkebunan Jawa Timur tidak hanya terletak pada produksi bahan baku, tetapi juga pada peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi. Hal tersebut terlihat dari tingginya ekspor kopi dalam bentuk green bean, keberhasilan pengembangan produk olahan kakao seperti mentega cokelat, hingga peluang penguatan produk ekstrak dan konsentrat teh.

Dari sisi nilai ekspor, produk kakao olahan menjadi komoditas dengan harga tertinggi. Mentega cokelat tercatat memiliki nilai ekspor mencapai 13,74 dolar AS per kilogram, diikuti pasta kakao sebesar 8,39 dolar AS per kilogram dan biji kakao sebesar 7,63 dolar AS per kilogram. Sementara itu, kopi green bean memiliki nilai ekspor 4,64 dolar AS per kilogram.

Untuk memperkuat promosi sekaligus mendorong hilirisasi produk perkebunan, Bank Indonesia Jawa Timur kembali menggelar Java Coffee & Flavor Festival (JCFF) 2026 pada 17–19 Juli 2026 di Alun-Alun Surabaya dan Hotel Kampi.

Memasuki penyelenggaraan tahun kelima, festival yang sebelumnya dikenal dengan nama Java Coffee Culture (JCC) tersebut menjadi ajang strategis untuk memperkenalkan kopi, rempah-rempah, dan cokelat asal Pulau Jawa kepada pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor.

Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu meningkatkan daya tarik kawasan Alun-Alun Surabaya sebagai destinasi wisata heritage sekaligus mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif berbasis produk lokal.

Berbagai kegiatan akan meramaikan JCFF 2026, mulai dari talkshow dan workshop EduCoffee, business matching perdagangan dan pembiayaan, lelang kopi, hingga berbagai kompetisi seperti brewing competition, latte art competition, cupping competition, serta sejumlah atraksi kreatif lainnya.

“Outcome yang diharapkan adalah meningkatnya eksposur, daya saing, akses pembiayaan, dan penjualan komoditas kopi, rempah, serta cokelat yang memiliki potensi ekspor tinggi,” kata Ibrahim.

Bank Indonesia juga menargetkan terciptanya diversifikasi produk olahan kopi dan rempah, serta penguatan ekosistem wisata heritage di kawasan Alun-Alun Surabaya melalui penyelenggaraan festival tersebut.

Sebagai gambaran, pelaksanaan JCFF 2025 berhasil menarik sekitar 2.000 peserta dengan capaian business matching perdagangan sebesar Rp79,51 miliar dan pembiayaan senilai Rp28,06 miliar. Tahun ini, JCFF juga menjadi bagian dari rangkaian menuju Karya Kreatif Indonesia (KKI) yang akan digelar di Jakarta.

Melalui sinergi dengan pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, Bank Indonesia berharap pengembangan komoditas unggulan Jawa Timur dapat semakin memperkuat kontribusi sektor ekspor sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.

Editor :