klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Dari Pusaka hingga Buceng Purak, Grebeg Suro Ponorogo Sedot Perhatian Warga

avatar Fauzy Ahmad
  • URL berhasil dicopy
Kirab pusaka dan pawai lintas sejarah Gerebek Suro di Ponorogo
Kirab pusaka dan pawai lintas sejarah Gerebek Suro di Ponorogo

KLIKJATIM.Com | Ponorogo - Ribuan warga memadati jalanan Ponorogo sejak sore hari, Senin (15/6/2026). Mereka rela berdesakan di sepanjang rute kirab pusaka dan pawai lintas sejarah yang menjadi bagian dari rangkaian Grebeg Suro 2026.

Antusiasme masyarakat terlihat sejak iring-iringan pusaka diberangkatkan dari kawasan Batoro Katong di Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan. Dari kawasan yang dikenal sebagai kota lama itu, rombongan bergerak menuju pusat pemerintahan Kabupaten Ponorogo saat ini.

Sorak warga mengiringi perjalanan tiga pusaka utama yang dikirab, yakni Payung Tunggul Wulung, Tombak Tunggul Nogo, dan Sabuk Angkin Cinde Puspita. Sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten Ponorogo bersama unsur Forkopimda turut berjalan dalam prosesi sakral tersebut.

Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, mengaku bersyukur melihat tingginya partisipasi masyarakat. Menurutnya, kirab pusaka bukan sekadar agenda seremonial tahunan, tetapi menjadi bagian penting dari upaya melestarikan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

"Tahun ini masyarakat yang hadir terlihat semakin banyak. Ini menunjukkan bahwa tradisi dan budaya masih mendapat tempat di hati warga Ponorogo," ujarnya.

Perempuan yang akrab disapa Bunda Rita itu menilai Grebeg Suro telah menjadi identitas budaya yang perlu terus dijaga keberlangsungannya. Karena itu, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus menghadirkan rangkaian kegiatan budaya tersebut setiap tahun.

Selain menjadi ajang pelestarian budaya, Grebeg Suro juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat. Ribuan pengunjung yang datang turut menggerakkan aktivitas perdagangan, mulai dari pedagang kaki lima hingga pelaku UMKM lokal.

"Alhamdulillah, kegiatan seperti ini memberikan manfaat bagi masyarakat karena roda ekonomi ikut bergerak," katanya.

Tak hanya kirab pusaka, perhatian warga juga tertuju pada tradisi buceng purak yang digelar setelah prosesi berlangsung. Buceng berisi berbagai hasil bumi seperti sayuran dan buah-buahan itu menjadi rebutan masyarakat yang percaya terdapat nilai simbolis dan doa keberkahan di dalamnya.

Salah satu warga, Andin Putri, mengaku ikut berbaur dengan kerumunan untuk mendapatkan sebagian isi buceng. Ia berhasil membawa pulang beberapa hasil bumi seperti pare, gambas, dan terong.

"Alhamdulillah dapat untuk dimasak di rumah. Ikut rebutan karena ingin ngalap berkah, semoga rezeki semakin lancar," ujarnya sambil tersenyum.

Usai kirab, rangkaian Grebeg Suro dilanjutkan dengan prosesi jamasan pusaka. Ketiga pusaka yang telah diarak kemudian dibersihkan dalam ritual khusus sebelum kembali disimpan di Pringgitan, rumah dinas Bupati Ponorogo.

Bagi masyarakat Ponorogo, kirab pusaka bukan hanya perayaan budaya. Tradisi ini menjadi pengingat akan sejarah panjang daerah sekaligus momentum mempererat kebersamaan warga yang setiap tahun selalu menantikan datangnya bulan Suro

Editor :