KLIKJATIM.Com | Surabaya – PT Terminal Teluk Lamong (TTL) menerima kunjungan Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (DPC APTRINDO) Kota Surabaya dalam sebuah forum dialog terbuka. Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antar pelaku ekosistem logistik serta mendorong peningkatan kualitas layanan terminal yang lebih efisien, aman, dan berkelanjutan di wilayah Jawa Timur.
Audiensi yang berlangsung di Kantor PT Terminal Teluk Lamong tersebut dihadiri oleh Ketua DPC APTRINDO Kota Surabaya I Wayan Sumadita, Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong David P. Sirait, Terminal Head TPK Teluk Lamong Pierre Rochel Tumbol, serta jajaran pengurus dan anggota DPC APTRINDO Kota Surabaya.
Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong, David P. Sirait, menegaskan bahwa secara kapasitas, Terminal Petikemas Teluk Lamong masih sangat memadai dengan daya tampung lapangan penumpukan mencapai 1,4 juta TEUs per tahun, didukung fasilitas gate modern dan alat bongkar muat otomatis.
Namun, tantangan utama saat ini terletak pada manajemen pola kedatangan truk. Ketika truk datang menumpuk di waktu yang sama, potensi antrean akan meningkat.
"APTRINDO merupakan mitra strategis dalam rantai pasok logistik nasional. Yang perlu kita kelola bersama bukan hanya kapasitas terminal, tetapi pola kedatangan kendaraan. Kedisiplinan terhadap jadwal kedatangan menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran layanan," ujar David.
Sebagai solusi konkret, TTL telah menerapkan Terminal Booking System (TBS) Stage 2 sejak Maret 2026. Sistem ini mengatur kedatangan kendaraan berdasarkan slot waktu operasional per empat jam agar arus truk lebih seimbang sepanjang hari.
Sebanyak 33% truk datang sesuai dengan slot waktu yang telah dibooking dan sisa 67% armada masih datang lebih awal atau lebih lambat dari jadwal.
Untuk mengantisipasi hal ini, TTL juga telah menyediakan Green Shelter (Waiting Area) berkapasitas hingga 66 truk sebagai ruang tunggu nyaman bagi pengemudi sebelum memasuki terminal sesuai jadwal.
Ketua DPC APTRINDO Kota Surabaya, I Wayan Sumadita, mengapresiasi keterbukaan manajemen TTL dalam menerima aspirasi para pengusaha truk. Dalam diskusi tersebut, APTRINDO menyampaikan beberapa masukan strategis untuk evaluasi layanan ke depan.
Masukan tersebut meliputi pengkajian jalur pelayanan khusus untuk kontainer reefer guna mempercepat kargo berpendingin. Selain itu, diusulkan pula kajian pengembangan kapasitas area penyangga di luar waiting area eksisting untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan, serta peningkatan koordinasi dengan pelayaran domestik terkait ketersediaan kontainer best pick untuk pengambilan petikemas kosong.
Mila, perwakilan dari perusahaan transportasi logistik Bigtrans, turut menambahkan bahwa pelayanan di TTL terus menunjukkan grafik positif dari tahun ke tahun. Ia sepakat bahwa perusahaan trucking juga memegang tanggung jawab untuk mendisiplinkan jadwal operasional dan menguatkan kompetensi pengemudi di lapangan.
Menanggapi masukan tersebut, manajemen TTL berkomitmen melakukan evaluasi komprehensif dari aspek operasional, keselamatan, dan efisiensi layanan. Forum ini diakhiri dengan kesepakatan bersama untuk memperkuat koordinasi dan sosialisasi demi terciptanya sistem logistik nasional yang andal dan berdaya saing tinggi.
"Efisiensi waktu pelayanan merupakan kebutuhan bersama dalam industri logistik, sehingga kolaborasi antara terminal dan pengguna jasa menjadi kunci untuk mewujudkan layanan yang semakin baik," tutup Wayan.
Editor : Fatih