klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Volume Sampah Terus Meningkat, DPRD Gresik Dukung Solusi PSEL Regional

avatar Abdul Aziz Qomar
  • URL berhasil dicopy
Ketua DPRD Gresik Muhammad Syahrul Munir (Kanan), saat meninjau pengolahan sampah di TPA Ngipik. (Qomar/Klikjatim.com)
Ketua DPRD Gresik Muhammad Syahrul Munir (Kanan), saat meninjau pengolahan sampah di TPA Ngipik. (Qomar/Klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Gresik – DPRD Gresik menyatakan komitmennya mendukung program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Regional Surabaya Raya sebagai solusi penanganan persoalan sampah yang terus meningkat di Kabupaten Gresik.

Ketua DPRD Gresik, M Syahrul Munir, mengatakan persoalan sampah kini menjadi isu nasional yang mendapat perhatian khusus dari Presiden RI Prabowo Subianto. Menurutnya, peningkatan volume sampah tidak sebanding dengan kapasitas pengelolaan yang tersedia saat ini.

“Permasalahan pengelolaan sampah menjadi perhatian nasional dan mendapat atensi langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Saat retret Ketua DPRD se-Indonesia di Magelang pada Bulan April kemarin, Presiden juga memberikan arahan khusus terkait persoalan sampah. Karena itu kami sangat mendukung program pemerintah pusat,” ujar Syahrul, Jumat 15 Mei 2026.

Ia menjelaskan, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), timbulan sampah nasional pada 2026 mencapai 51,8 juta ton. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 13,5 juta ton atau 26 persen yang berhasil dikelola, sementara sisanya sekitar 38 juta ton belum tertangani secara optimal.

Rinciannya, sekitar 15,3 juta ton sampah masih ditimbun di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan sistem open dumping, sedangkan sekitar 23 juta ton lainnya berakhir mencemari lingkungan melalui pembakaran terbuka, pembuangan liar, maupun dibuang ke badan air.

Pemerintah pusat sendiri menargetkan tingkat pengelolaan sampah mencapai 63,41 persen dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.

Syahrul juga memaparkan komposisi sampah nasional yang didominasi sisa makanan sebesar 38,64 persen, disusul sampah lainnya 31,43 persen, plastik 19,65 persen, dan kertas atau karton sebesar 11,21 persen. Sementara sumber sampah terbesar berasal dari rumah tangga yang mencapai 51,75 persen.

Di Kabupaten Gresik, pengelolaan sampah terpadu yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup (DLH) saat ini memiliki kapasitas pengolahan sekitar 18 ton sampah per hari.

Selain itu, Syahrul mengungkapkan adanya rencana pengolahan sampah secara aglomerasi di kawasan Surabaya Raya. Nantinya, sampah dari Gresik akan dikirim ke TPA Benowo Surabaya untuk diolah menjadi energi listrik melalui proyek PSEL regional yang ditargetkan mulai terealisasi pada 2028.

“Kami sangat mendukung dan berkomitmen menyukseskan program tersebut. Bahkan surat dukungannya sudah saya tandatangani,” pungkasnya.

Editor :