klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Gas Elpiji 3 Kg Masih Langka di Jember, Pemkab Gelar Pasar Murah dan Ancam Cabut Izin Usaha Pelaku Nakal

avatar Muhammad Hatta
  • URL berhasil dicopy
Antrean Pembeli Gas Elpiji 3 Kg di Pasar Murah Kecamatan Tanggul. (Hatta/Klikjatim.com)
Antrean Pembeli Gas Elpiji 3 Kg di Pasar Murah Kecamatan Tanggul. (Hatta/Klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Jember - Kelangkaan gas elpiji subsidi 3 kilogram (Kg) atau gas melon di Kabupaten Jember mendorong pemerintah daerah turun tangan dengan menggelar pasar murah serta memperketat pengawasan distribusi. 

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Perdagangan (Diskop UKM dan Perdagangan) Kabupaten Jember, Sartini, menyatakan bahwa langkah ini dilakukan sebagai bentuk respons atas keluhan masyarakat yang kesulitan mendapatkan elpiji dengan harga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Alhamdulillah kami menggelar Pasar Murah LPG ini atas petunjuk pimpinan, petunjuk Gus Bupati untuk optimalisasi kehadiran pemerintah di masyarakat atas kelangkaan LPG ini,” ujar Sartini saat dikonfirmasi, Jumat (24/4/2026).

Dalam kegiatan tersebut, pemerintah menggandeng Pertamina Patra Niaga dan Hiswana Migas untuk mendistribusikan elpiji 3 kilo ke seluruh kecamatan. Setiap kecamatan dialokasikan sebanyak 300 tabung dengan harga jual Rp18.000 per tabung, sesuai HET yang telah ditetapkan.

Kronologi kelangkaan ini bermula dari tingginya permintaan di tingkat masyarakat yang tidak diimbangi dengan distribusi optimal di lapangan.

Selain itu, praktik penjualan di tingkat pengecer dengan harga di atas HET turut memperparah kondisi. 

Sartini menjelaskan bahwa Pertamina hanya memiliki kewenangan hingga tingkat pangkalan resmi, sehingga tidak dapat memberikan sanksi langsung kepada pengecer.

“Kalau masyarakat membeli di toko atau pengecer memang lebih dekat, tapi ketika harga melambung, Pertamina tidak bisa memberikan teguran karena hirarkinya hanya sampai pangkalan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa dalam regulasi, distribusi dari pangkalan ke pengecer dibatasi maksimal 10 persen dari total kuota. Artinya, jika satu pangkalan menerima 100 tabung, maka hanya 10 tabung yang boleh disalurkan ke pengecer. Namun dalam praktiknya, ketentuan ini kerap dilanggar sehingga berdampak pada kelangkaan di tingkat masyarakat.

Untuk itu, pemerintah mengimbau masyarakat agar membeli langsung di pangkalan resmi. Saat ini, tercatat terdapat 2.001 pangkalan dan 34 agen elpiji di Kabupaten Jember. Pembelian di pangkalan juga dibatasi, yakni satu kepala keluarga hanya diperbolehkan membeli satu tabung dengan menunjukkan KTP dan Kartu Keluarga asli guna memastikan distribusi tepat sasaran.

Selain itu, pemerintah juga meningkatkan pengawasan terhadap pelaku usaha yang seharusnya tidak menggunakan elpiji subsidi. 

Berdasarkan hasil inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan tim monitoring dan evaluasi dari Biro Perekonomian Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama instansi terkait dua hari sebelumnya, ditemukan sejumlah usaha seperti laundry, kafe, hingga penginapan yang masih menggunakan elpiji 3 kilogram.

“Saat sidak, kami langsung meminta pelaku usaha menukar dua tabung gas melon dengan satu tabung bright gas 12 kilogram. Sementara ini masih kami beri teguran,” ungkap Sartini.

Ia menegaskan bahwa penggunaan elpiji subsidi oleh pelaku usaha merupakan pelanggaran yang akan ditindak tegas. Pemerintah telah melayangkan surat teguran dan akan terus melakukan pemantauan secara berkala. Jika dalam sidak berikutnya masih ditemukan pelanggaran serupa, sanksi berat akan diberlakukan.

“Jika masih bandel, ancamannya tegas, kami cabut Nomor Induk Berusaha (NIB)-nya sehingga tidak bisa menjalankan usahanya,” tegasnya.

Terkait kondisi langkanya Gas Elpiji Subsidi 3 Kg itu, dan harga di pengecer masih melonjak. Diketahui di Dusun Sumbertenggulun, Desa Manggisan, Kecamatan Tanggul. Harga tabung gas elpiji 3 Kg itu di tingkat pengecer kurang lebih Rp40 ribu.

"Mungkin kalau mau ke desa lain dekat pusat kecamatan lebih murah. Tapi bagi kami terlalu jauh. Di sini masih Rp40 ribu," ujar salah seorang warga setempat Sunarsih.

Kondisi yang sama juga terjadi di wilayah dusun setempat. "Termasuk daerah Zelandia dan Perkebunan Gondang. Di sana sama. Mungkin karena jarak daerah kami jauh. Tapi kan masih sama-sama di Jember," ujarnya.

Ungkapan senada juga disampaikan warga Desa Tanggul Wetan, Devi. Terkait kelangkaan gas elpiji 3 Kg juga masih dirasakan olehnya sampai saat ini.

"Di warung ada yang jual Rp25 ribu, ada juga yang jual Rp35 ribu. Alhamdulillah ada Pasar Murah di Kantor Kecamatan Tanggul ini lumayan. Semoga gak langka dan harganya agak normal lah," kata Devi.

Editor :