klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

PSBB II, Kabupaten Gresik Butuh Tambahan Personel

avatar Abdul Aziz Qomar
  • URL berhasil dicopy
Bupati Gresik Sambari Halim Radianto didampingi Kapolres Gresik AKBP Kusworo Wibowo saat meninjau check poin PSBB
Bupati Gresik Sambari Halim Radianto didampingi Kapolres Gresik AKBP Kusworo Wibowo saat meninjau check poin PSBB

KLIKJATIM.Com | Gresik - Kabupaten Gresik masih membutuhkan tambahan personel untuk melaksanakan perpanjangan pelaksanaan PSBB II hingga 25 Mei mendatang. Selama ini pengawasan PSBB tahap I kurang maksimal karena masih banyak kendaraan yang lolos dalam pemeriksaan check poin.

[irp]

Hal itu disampaikan Bupati Gresik Sambari Halim dalam sebuah dialog di televisi. Dia menyampaikan ada sejumlah hal yang menyebabkan pelaksanaan PSBB di Gresik belum optimal. Diantaranya adalah jumlah personel yang masih kurang. Ditambah lagi, di setiap area check point juga masih tampak sejumlah kendaraan yang lolos dari pemeriksaan.

Bupati Sambari meminta agar petugas di tiap titik check point lebih di optimalkan lagi dengan penambahan jumlah personel. Sehingga pemeriksaan dapat dilakukan secara menyeluruh. "Di check point kita belum maksimal. Kami minta agar petugas jaga dapat ditambah agar dapat terlaksana secara optimal. Bersama Pak Kapolres dan Pak Dandim akan kita pantau terus. Mudah-mudahan dengan diperketat dapat berhasil,” kata Bupati Sambari.

Yang tak kalah penting saat ini, sambung Bupati, adalah peran para Satgas Covid-19 di tingkat desa. Kepala Desa bersama BPD didampingi Babinsa dan Bhabinkamtibmas harus bekerja ekstra untuk memonitor kondisi yang ada di wilayahnya masing-masing. “Pengawasan di tingkat desa harus diperkuat dan satgas Kabupaten juga harus ikut mengawasi,” ujar Sambari.

[irp]

Jika personel diperkuat, dia optimis bahwa permasalahan virus covid-19 dapat di tekan penyebarannya. Bahkan dapat segera terhenti penyebarannya. Apalagi jika didapati ada warganya yang terindikasi rentan, maka harus dilakukan karantina dan harus benar-benar diawasi. “Para kepala desa harus lebih aktif lagi. Sebab yang tak kalah penting adalah pengawasan di tingkat paling bawah, yakni di tingkat desa,” katanya.

Dirinya mengungkapkan, sejak dilakukan launching PSBB pihaknya mengaku telah melakukan berbagai upaya termasuk sosialisasi secara masif hingga ke tingkat paling bawah. Dengan upaya tersebut diharap masyarakat mulai paham bahkan terlihat antusias mengikuti aturan PSBB.

Pakar Komunikasi Politik Unair, Suko Widodo mengatakan, penerapan PSBB belum bisa menekan angka kasus virus corona atau Covid-19 di Surabaya Raya dan daerah lainnya. Ini akan membuat rakyat makin galau, dan lama-lama bisa frustasi. "Kalau ini tidak terjaga psikis massa bisa menyebabkan kepanikan. Dampak sosial yang tidak bagus bagi usaha pencegahan. Nanti bisa timbul sikap warga melawan peraturan,” terangnya.

Situasi psikis seperti itu, pastilah tidak kondusif dalam upaya bersama-sama mencegah penularan Covid-19. Apalagi jika terjadi kesimpangsiuran dan overload informasi, bisa-bisa terjadi kepanikan massa. Suko membeberkan sebelum diketemukan vaksin pencegah covid-19, PSBB dan protokol kesehatan untuk mencegahnya, penerapannya tidak masimal. “Artinya, belum ada satu pun kawasan PSBB yang jumlah orang terpapar menurun secara drastis setelah PSBB,” jelasnya.

Suko menyarankan membuat tim pendampingan warga. Hal ini karena jumlah gugus tugas yang terbatas. “Tim Pendamping ini sebagai penjangkarnya gugus tugas. Dikasih otoritas dan dilatih secara masif dan cepat,” pungkasnya. (hen)

Editor :