klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Festival Ojung Masuk Kalender 2026, Pemkab Sumenep Dorong Budaya Jadi Motor Wisata

avatar Hendra
  • URL berhasil dicopy
BUDAYA : Dua peserta menampilkan atraksi Ojung dengan saling beradu rotan di Pantai Galung, Desa Juruan Daja, Kecamatan Batuputih, disaksikan warga yang memadati lokasi festival. (doc. Istimewa/Klikja
BUDAYA : Dua peserta menampilkan atraksi Ojung dengan saling beradu rotan di Pantai Galung, Desa Juruan Daja, Kecamatan Batuputih, disaksikan warga yang memadati lokasi festival. (doc. Istimewa/Klikja

KLIKJATIM.Com | Sumenep - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga tradisi lokal melalui penyelenggaraan Festival Ojung.


Agenda budaya ini resmi tercatat dalam Kalender Event 2026 dan dipusatkan di Pantai Galung, Desa Juruan Daja, Kecamatan Batuputih.


Selain sebagai langkah pelestarian warisan leluhur, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk menggerakkan sektor pariwisata serta memperkuat geliat ekonomi kreatif daerah.


Sekretaris Daerah (Sekda) Sumenep, Agus Dwi Saputra, menilai bahwa perhelatan ini tidak semata-mata menyajikan hiburan.


Ia menegaskan, nilai yang terkandung di dalamnya memiliki dimensi pembelajaran sosial yang penting bagi masyarakat luas.


“Festival ini bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, keberanian, dan sportivitas yang perlu diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya, Selasa (14/4).


Tradisi Ojung sendiri merupakan ritual khas masyarakat setempat yang mempertemukan dua peserta dalam adu ketangkasan menggunakan rotan secara bergantian. 


Lebih dari sekadar atraksi budaya, tradisi tersebut sarat makna spiritual, mulai dari doa keselamatan bagi desa hingga harapan akan turunnya hujan ketika musim kemarau tiba.


Pemkab Sumenep memandang partisipasi generasi muda sebagai kunci keberlangsungan tradisi di tengah derasnya arus globalisasi.


Festival ini pun dirancang menjadi ruang keterlibatan aktif bagi kalangan muda, tidak hanya hadir sebagai penikmat, melainkan juga sebagai pelaku yang menjaga dan meneruskan nilai budaya.


“Generasi muda harus mengenal, mencintai, dan melanjutkan warisan budaya agar tetap memiliki jati diri yang kuat,” tegas Agus.


Dalam penyelenggaraannya, pemerintah daerah turut melakukan berbagai pembaruan agar festival semakin menarik tanpa meninggalkan substansi tradisionalnya. 


Penataan area acara, optimalisasi promosi digital, serta kolaborasi dengan pelaku ekonomi kreatif menjadi bagian dari strategi pengemasan yang lebih adaptif.


Upaya tersebut ditempuh untuk memperluas daya tarik acara, sekaligus memastikan nilai-nilai luhur tetap menjadi fondasi utama.


“Esensi budaya tetap dijaga, sementara kemasan disesuaikan agar lebih menarik dan relevan,” jelasnya.


Ke depan, Festival Ojung diproyeksikan tak hanya menjadi simbol kebanggaan budaya Sumenep, melainkan juga memberi dampak nyata terhadap peningkatan kunjungan wisata dan pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat. 


Momentum ini juga diharapkan menjadi wahana mempererat hubungan sosial antarwarga melalui interaksi dan kebersamaan dalam merayakan kekayaan tradisi.


Melalui pendekatan pelestarian yang bersifat adaptif dan kolaboratif, Pemkab Sumenep meneguhkan tekad untuk menjaga warisan budaya sekaligus menjadikannya sebagai pilar pembangunan daerah yang berkelanjutan.

 

Editor :