klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Dari Akademisi ke Aksi Sosial, Muslimat NU Ukir Rekor Profesor Perempuan Multidisiplin Terbanyak

avatar Abdul Aziz Qomar
  • URL berhasil dicopy
Puncak harlah Muslimat NU di Semarang (Dok)
Puncak harlah Muslimat NU di Semarang (Dok)

KLIKJATIM.Com | Semarang – Peringatan HUT ke-80 Muslimat NU menjadi momentum bersejarah bagi penguatan peran intelektual perempuan. Organisasi perempuan terbesar ini berhasil memecahkan rekor MURI sebagai ormas dengan jumlah profesor perempuan terbanyak di Indonesia, sekaligus forum dengan keterlibatan profesor perempuan lintas disiplin ilmu terbanyak.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Direktur MURI Semarang Ari Indriani kepada Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa, dalam rangkaian acara HUT ke-80 Muslimat NU di UTC Convention Hotel, Semarang, Sabtu (11/4/2026).

Selain mencetak rekor, kegiatan ini juga diwarnai pengukuhan 400 paralegal Muslimat NU se-Jawa Tengah sebagai bagian dari penguatan akses keadilan bagi masyarakat, khususnya perempuan dan anak.

Khofifah menegaskan, capaian tersebut mencerminkan kemajuan kapasitas intelektual perempuan Indonesia yang semakin berdaya dan berkontribusi nyata dalam pembangunan.

“Ini menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya kuat secara sosial, tetapi juga memiliki kapasitas intelektual yang tinggi dan mampu mengambil peran strategis di berbagai bidang,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan profesor perempuan dalam jumlah besar menjadi kekuatan penting dalam membangun kebijakan yang inklusif dan berkeadilan, terutama dalam isu perlindungan perempuan dan anak.

Khofifah juga menekankan bahwa pengukuhan paralegal merupakan langkah konkret untuk memperluas jangkauan bantuan hukum hingga ke tingkat akar rumput.

“Problematika akses keadilan masyarakat di lini terbawah harus tersentuh. Karena itu, peran paralegal menjadi sangat penting,” katanya.

Ke depan, para paralegal ini akan diperkuat melalui pelatihan lanjutan, termasuk sebagai juru damai dalam penyelesaian konflik sosial di masyarakat.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai keberadaan paralegal akan menjadi perpanjangan tangan dalam memberikan pendampingan hukum sekaligus upaya pencegahan konflik di masyarakat.

“Pendampingan kepada masyarakat menjadi hal penting untuk menciptakan rasa aman dan ketertiban,” ujarnya.

Ketua PP Muslimat NU Arifah Choori Fauzi menambahkan, para paralegal yang dikukuhkan telah melalui serangkaian pelatihan dan seleksi, termasuk kemampuan mendengar dan merespons persoalan di lingkungan masing-masing.

Ia menegaskan, upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari aparat, lembaga swadaya masyarakat, hingga komunitas di tingkat desa.

Capaian dua rekor MURI tersebut sekaligus menegaskan posisi Muslimat NU sebagai kekuatan perempuan yang tidak hanya aktif secara sosial, tetapi juga unggul dalam kapasitas akademik dan intelektual, serta berkontribusi dalam mendorong pembangunan yang inklusif dan berkeadilan.

Editor :