KLIKJATIM.Com | Jember – Harga berbagai jenis plastik di Kabupaten Jember melonjak tajam dalam beberapa waktu terakhir, bahkan mencapai lebih dari 100 persen. Kenaikan ini mulai dirasakan dampaknya oleh pedagang dan pelaku usaha kecil pasca-Lebaran.
Lonjakan harga tersebut diduga dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku akibat konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada distribusi minyak dunia.
David Susanto, pengelola Toko Mitra Plastik di Pasar Tanjung, Kecamatan Kaliwates, mengungkapkan bahwa kenaikan harga sebenarnya sudah terjadi sejak awal Maret 2026, namun dampaknya baru terasa signifikan setelah Lebaran.
“Sejak awal Maret sudah mulai naik, awalnya sekitar 20 persen, lalu bertahap hingga 40 persen. Tapi setelah Lebaran, dampaknya benar-benar terasa,” ujar David saat ditemui di tokonya, Jumat (10/4/2026).
Menurutnya, lonjakan harga tidak lepas dari situasi geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah yang memengaruhi pasokan minyak sebagai bahan baku utama plastik.
“Informasi yang kami terima, jalur distribusi seperti Selat Hormuz sempat terganggu. Pasokan minyak berkurang, sehingga harga bahan baku plastik ikut naik,” jelasnya.
Ia menambahkan, hampir seluruh jenis produk plastik mengalami kenaikan, mulai dari kantong kresek, gelas plastik, botol, hingga kemasan makanan seperti thinwall dan mika.
“Sekarang kenaikannya sudah sampai 100 persen, bahkan lebih dari harga normal. Hampir semua jenis plastik naik,” katanya.
David juga memaparkan perbandingan harga. Kemasan thinwall yang sebelumnya sekitar Rp20 ribu kini naik menjadi di atas Rp30 ribu per pak. Sementara kantong kresek yang semula sekitar Rp6 ribu kini menembus Rp10 ribu per pak.
“Kenaikannya sangat terasa bagi pembeli,” imbuhnya.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada penurunan daya beli konsumen. David mengaku penjualan di tokonya menurun karena banyak pelanggan mengurangi pembelian atau mencari alternatif kemasan lain.
“Sekarang menjual lebih sulit. Pembeli banyak yang mengeluh karena harga naik drastis,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Totok Wirawan (34), pedagang cilok keliling yang bergantung pada kemasan plastik untuk berjualan.
“Sekarang jadi bingung karena plastik mahal semua. Padahal saya butuh untuk wadah jualan. Kalau terus naik, terpaksa harus mengurangi atau cari alternatif, tapi tidak mudah,” katanya.
Kenaikan harga plastik ini menjadi tantangan serius bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergantung pada kemasan plastik dalam operasional sehari-hari.
Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa stabilisasi harga bahan baku, dampaknya dikhawatirkan meluas, mulai dari kenaikan harga produk di tingkat konsumen hingga terancamnya keberlangsungan usaha kecil di berbagai sektor.
Editor : Abdul Aziz Qomar