KLIKJATIM.Com | Sumenep - Kritik tajam kembali mengarah ke kawasan wisata Pantai Slopeng, Kabupaten Sumenep, Madura.
Destinasi yang semestinya menjadi kebanggaan daerah itu justru dibanjiri kritik dari warga sekitar hingga wisatawan.
Permasalahan yang dikeluhkan pun bukan hal baru. Sampah yang menumpuk, tarif masuk yang dinilai tinggi, serta ketiadaan pembenahan berarti dari waktu ke waktu.
Jakfar Sodiq, warga di sekitar lokasi wisata, membantah pernyataan pengelola yang sebelumnya beredar di media daring.
Ia menolak anggapan bahwa tumpukan sampah di pantai semata-mata disebabkan abrasi.
"Faktanya, sampah di sini memang banyak dan menumpuk. Ini bukan sekadar kiriman dari laut akibat abrasi. Pengelolaan yang buruk jelas jadi penyebab utama," tegas Jakfar, Senin (30/3).
Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan lemahnya manajemen kebersihan. Ia juga menyoroti ketidakseimbangan antara biaya masuk yang dipungut dengan kondisi fasilitas yang tersedia.
"Pengunjung bayar mahal, tapi yang didapat apa? Pantai kotor, fasilitas minim, dan tidak ada perubahan dari tahun ke tahun," tambahnya.
Jakfar bahkan mengkritik cara pandang pengelola yang dianggap lebih menitikberatkan pada aspek keuntungan ketimbang inovasi dan pembenahan destinasi.
"Jangan hanya menjadi pihak ketiga memikirkan untung dan ruginya saja. Hal ini berurusan dengan inovasi dan nama baik wisata Pantai Slopeng," jelasnya.
Keluhan lain datang dari Syamsul, seorang wisatawan yang mengaku mengalami pengalaman janggal saat momen Lebaran Ketupat. Ia menyebut tetap dimintai uang meski tidak memasuki area wisata.
"Benar saya dimintai uang 20 ribu pada saat hari Lebaran Ketupat. Saya sama keluarga gak masuk. Katanya petugas untuk menunjang keuangan yang mengundang DJ," tuturnya.
Ia menilai praktik tersebut menunjukkan lemahnya pengawasan serta tata kelola yang tidak profesional.
Alasan yang disampaikan petugas dianggap tidak relevan dan memperkuat kesan bahwa orientasi pengelolaan lebih pada pemasukan instan dibanding kenyamanan pengunjung.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep, Faruk Hanafi, belum memberikan tanggapan hingga berita ini dipublikasikan.
Upaya konfirmasi melalui pesan singkat dan panggilan WhatsApp belum memperoleh respons. Sikap diam tersebut kian menambah kekecewaan publik yang menantikan penjelasan resmi.
Gelombang kritik semakin meluas setelah seorang kreator TikTok asal Surabaya, pemilik akun Pesona Jogja, mengunggah video yang memperlihatkan kekecewaannya terhadap kondisi pantai tersebut pada Rabu (25/3/2026).
Dalam video berdurasi singkat itu, ia melontarkan kritik keras dengan bahasa yang sangat kasar.
"Pantai Slopeng kayak ta*k, harga mahal kualitas kayak gini, pantai penuh sampah. Taik, taik, anjing emang. Sampah dimana-mana loh, sampah semua, mana-mana sampah ni. Gimana mau rame. Tiket doang mahal, tapi kualitas pantai kayak gini, tai anjing emang, apalagi yang di sono no,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, kekecewaannya juga tertuang dalam keterangan unggahan video tersebut.
"Save Pantai Slopeng, penuh sampah kek gini harga tiket ngalahin Ancol sumpah nyesel jauh-jauh dari Suroboyo malah gini," jelasnya dalam deskripsi videonya.
Editor : Wahyudi