KLIKJATIM.Com | Sumenep - Kebiasaan berbagi amplop berisi uang atau yang akrab disebut “ampau” masih menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Hari Raya Idulfitri.
Tradisi ini terus dinanti, khususnya oleh anak-anak yang menjadikannya sebagai salah satu momen paling menyenangkan setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa.
Memasuki Lebaran tahun 2026, tradisi tersebut tetap terjaga dan hidup di tengah masyarakat. Selain menjadi sarana berbagi rezeki, ampuan juga menghadirkan kebahagiaan sederhana yang mempererat hubungan antaranggota keluarga.
Di sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk di Desa Kaduara Timur, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Madura, kebiasaan ini masih dilakukan secara turun-temurun.
Biasanya, ampau diberikan oleh orang tua, saudara, maupun tetangga kepada anak-anak atau anggota keluarga yang lebih muda.
Momen pembagian ampau umumnya berlangsung usai pelaksanaan salat Idulfitri, ketika suasana silaturahmi dan saling bermaafan terasa hangat di setiap rumah.
Anak-anak tampak antusias mengunjungi kerabat, tidak hanya untuk bersalaman, tetapi juga berharap mendapatkan amplop berisi uang.
Salah seorang warga, Yuli Mariayatur Rahmah mengungkapkan, bahwa ampau memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar nominal uang yang diberikan.
Menurutnya, tradisi tersebut mencerminkan bentuk kasih sayang serta perhatian kepada anak-anak, sekaligus wujud rasa syukur setelah menjalani ibadah Ramadan.
“Bagi kami, ini bukan soal jumlahnya, tapi lebih kepada kebahagiaan dan kedekatan yang tercipta. Anak-anak biasanya senang sekali, bahkan mereka sering saling menunjukkan dan membandingkan isi ampau dengan penuh tawa,” ujarnya, Minggu (22/3) siang.
Ia juga menambahkan bahwa di era modern seperti sekarang, tradisi ampau mulai mengalami penyesuaian.
Selain dalam bentuk uang tunai yang dimasukkan ke dalam amplop, sebagian masyarakat kini mulai memberikan ampau secara digital melalui layanan perbankan maupun dompet elektronik.
Meski demikian, menurut Yuli, sensasi menerima ampau secara langsung tetap memberikan pengalaman emosional yang berbeda.
Interaksi tatap muka, senyum, serta ucapan doa menjadi nilai tersendiri yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
Senada dengan itu, kakak kandung Yuli, Anis Sulalah, menilai bahwa tradisi ampau merupakan bagian penting dari budaya Lebaran yang harus dijaga.
Ia menyebut, kebiasaan ini tidak hanya menyenangkan anak-anak, tetapi juga mengajarkan nilai berbagi sejak dini.
“Tradisi ini sederhana, tapi dampaknya besar. Anak-anak belajar tentang kebahagiaan berbagi, sementara orang dewasa mempererat tali silaturahmi. Meski sekarang ada ampau digital, tetap saja yang paling berkesan adalah ketika diberikan langsung,” kata Sulalah.
Ia berharap tradisi ampau tidak hilang tergerus perkembangan zaman, melainkan terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat saat merayakan Idulfitri.
Dengan segala makna yang terkandung di dalamnya, ampau bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan juga cerminan nilai kebersamaan, kepedulian, dan rasa syukur yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Editor : Wahyudi