KLIKJATIM.Com | Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mempercepat langkah menuju target Zero Over Dimension Over Load (ODOL) pada tahun 2027. Salah satu upaya tersebut ditunjukkan melalui penyerahan truk yang telah dinormalisasi dimensinya oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa kepada perwakilan sopir di halaman Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim, Jumat (6/3/2026).
Penyerahan truk hasil normalisasi ini menjadi bagian dari program percepatan penanganan kendaraan ODOL di Jawa Timur, sekaligus mendukung target nasional Zero ODOL 2027 yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Gubernur Khofifah menegaskan bahwa normalisasi dimensi kendaraan merupakan langkah penting untuk menciptakan sistem transportasi jalan yang lebih tertib, aman, dan berkelanjutan. Selain itu, kebijakan ini juga bertujuan meningkatkan keselamatan lalu lintas serta menjaga kualitas infrastruktur jalan.
“Apa yang kita lakukan hari ini merupakan bagian dari ikhtiar bersama dalam menormalisasi kendaraan ODOL. InsyaAllah kalau kita bergerak bersama, Jawa Timur bisa mencapai Zero ODOL pada tahun 2027,” ujar Khofifah.
Ia menjelaskan, Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Jawa Timur telah melakukan pengukuran terhadap 238 unit kendaraan milik anggota Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT). Dari jumlah tersebut, sebanyak 160 unit kendaraan dinyatakan wajib menjalani normalisasi dimensi berdasarkan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.
Seluruh proses normalisasi tersebut difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur secara bertahap. Bahkan, pemprov juga memberikan dukungan pembiayaan pemotongan dimensi kendaraan bagi pemilik kendaraan perorangan yang sekaligus berprofesi sebagai sopir dan belum mampu melakukan normalisasi secara mandiri.
“Proses normalisasi ini difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur, termasuk dukungan pembiayaan pemotongan dimensi kendaraan,” jelasnya.
Khofifah menilai, langkah ini diharapkan mampu mendorong partisipasi lebih luas dari para pelaku usaha transportasi maupun komunitas pengemudi untuk menyesuaikan dimensi kendaraan sesuai regulasi yang berlaku.
Ia juga menegaskan bahwa pengendalian kendaraan ODOL tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga menyangkut keselamatan seluruh pengguna jalan. Kendaraan dengan dimensi dan muatan berlebih terbukti meningkatkan risiko kecelakaan sekaligus mempercepat kerusakan jalan.
Menurutnya, kerusakan jalan akibat kendaraan ODOL berdampak besar terhadap kebutuhan anggaran perbaikan infrastruktur serta kelancaran distribusi logistik nasional. Kondisi tersebut juga dapat menghambat berbagai program pemerintah, termasuk Rencana Aksi Keselamatan (RAK).
“Di tengah penguatan logistik nasional, ODOL justru bisa menjadi penghambat. Kerusakan jalan akibat beban berlebih akan memengaruhi efektivitas distribusi dan keselamatan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Khofifah juga menyampaikan apresiasi kepada Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT) yang telah menunjukkan komitmen dalam mendukung program normalisasi kendaraan. Ia turut memberikan penghargaan kepada perusahaan karoseri CV Sumber Karya Abadi yang berperan dalam proses normalisasi dimensi kendaraan.
Khofifah menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha transportasi, komunitas pengemudi, serta berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci penting dalam mewujudkan tata kelola transportasi jalan yang lebih tertib, aman, dan berkelanjutan di Jawa Timur.
“Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas pengemudi, serta para pemangku kepentingan merupakan modal penting untuk mewujudkan transportasi jalan yang tertib, aman, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Di akhir kegiatan, Khofifah mengajak seluruh pihak untuk terus melanjutkan proses normalisasi kendaraan yang masih masuk kategori ODOL agar target Zero ODOL 2027 di Jawa Timur dapat tercapai.
“Mari kita teruskan normalisasi kendaraan yang masih kategori ODOL. Dengan kekuatan bersama, insyaAllah Jawa Timur bisa mencapai Zero ODOL 2027,” pungkasnya.
Editor : Abdul Aziz Qomar