klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Arus Logistik Jelang Lebaran 2026 Melonjak Tajam, Pelindo Siapkan Strategi Antisipasi Kepadatan Pelabuhan

avatar Abdul Aziz Qomar
  • URL berhasil dicopy
Kegiatan bongkar muat peti kemas di terminal petikemas Surabaya. (Dok)
Kegiatan bongkar muat peti kemas di terminal petikemas Surabaya. (Dok)

KLIKJATIM.Com | Surabaya – Menjelang perayaan Idulfitri 1447 Hijriah, arus logistik nasional mulai menunjukkan tren peningkatan signifikan, khususnya di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Para pelaku usaha logistik dan operator pelabuhan kini tengah bersiap ekstra guna memastikan rantai pasok tetap berjalan lancar di tengah lonjakan volume kargo yang diprediksi mencapai puncaknya pada Maret 2026.

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Jawa Tengah-DIY, Teguh Arif Handoko, mengungkapkan bahwa volume kargo di wilayahnya mengalami kenaikan hingga 130 persen. Di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, rotasi kontainer harian meningkat dari rata-rata 2.800 unit menjadi 3.000 unit.

Selain faktor musiman Lebaran, pertumbuhan investasi di Kawasan Industri Kendal (KIK) dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) menjadi pendorong utama peningkatan throughput pelabuhan.

"Tahun 2023 sekitar 700.000 TEUs, 2024 naik 800.000 TEUs, dan 2025 sudah tembus 1 juta TEUs. Ini signifikan, walaupun perusahaan di kawasan industri KIK dan KITB baru sekitar 20 persen yang sudah produksi dan operasi," ucap Teguh saat ditemui di kantornya.

Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam memikirkan manajemen rantai pasok seiring dengan derasnya investasi. "Jangan hanya memberikan suatu kemudahan investasi tanpa memikirkan manajemen supply chain. Jangan sampai investor bingung saat mengirim barang setelah produksi selesai," tandasnya.

Kondisi serupa terjadi di Jawa Timur. Ketua ALFI Jatim, Sebastian Wibisono, memprediksi volume arus logistik Lebaran akan meningkat sebesar 80 persen, mengingat Surabaya merupakan jalur transit utama menuju wilayah Indonesia Timur.

Menariknya, tahun ini lonjakan terasa lebih padat karena berdekatan dengan momen Imlek.

"Kebetulan Nataru, Imlek dan Idulfitri waktunya bersamaan, sehingga load-nya memang tinggi. Pas Imlek banyak impor turun ke sini, terus didistribusikan ke wilayah seperti Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan," papar Wibi.

Untuk mengantisipasi penumpukan di Pelabuhan Tanjung Perak, ALFI Jatim menerapkan strategi pengalihan lokasi, yakni memanfaatkan gudang ekspor untuk menampung sementara barang impor setelah berkoordinasi dengan pihak Bea Cukai. Strategi pemindahan kontainer ke storage domestik maupun depo yang beroperasi 24 jam nonstop juga menjadi andalan.

"Setiap tahun selalu ada migrasi antarterminal, terutama untuk kontainer ekspor-impor. Di sini ada dua terminal utama, Terminal Teluk Lamong dan Terminal Petikemas Surabaya," tambahnya.

Dari sisi operator, PT Pelindo Terminal Petikemas memastikan kesiapan infrastruktur di seluruh terminal yang dikelola. Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, menjelaskan bahwa sistem operasi terminal saat ini mampu merencanakan pelayanan bongkar muat sejak jauh hari, termasuk memprediksi tingkat kepadatan lapangan penumpukan (Yard Occupancy Ratio).

"Kami melakukan antisipasi sejak awal, terutama untuk lapangan penumpukan agar lebih optimal dalam menampung peti kemas, karena kurang lebih selama 16 hari peti kemas ini akan berada di dalam terminal dengan adanya pembatasan angkutan barang," kata Widyaswendra.

Ia juga mengimbau pengguna jasa untuk menggunakan terminal booking system guna menghindari kemacetan di jalan raya serta menyiapkan lokasi overbrengen (pindah lokasi penumpukan) untuk mengurai kepadatan area terminal selama operasional 24/7 saat libur Lebaran.

Peningkatan aktivitas ini dinilai oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah, Frans Kongi, sebagai sinyal positif penguatan ekonomi. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi mendekati Lebaran bisa mencapai 5,7 persen, lebih tinggi dari rata-rata harian sebesar 5,1 hingga 5,2 persen. Lonjakan bongkar muat komoditas pangan dan fesyen diprediksi menyentuh angka 25 persen pada H-10 Lebaran.

"Sejak Desember sudah terlihat ada peningkatan aktivitas bongkar muat di sana. Ini akan terus meningkat mendekati lebaran dengan kenaikan sekitar 25 persen dibanding hari biasa," ucap Frans.

Meski optimis, ia memberikan catatan mengenai ketidakpastian ekonomi pasca-Lebaran akibat faktor geopolitik global dan kebijakan tarif internasional yang perlu diwaspadai oleh para pelaku usaha.

Editor :