klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Percepat Hilirisasi, PLN Dukung Penuh IBC dan Mitra dalam Pengembangan Industri Baterai Terintegrasi Nasional

avatar Much Taufiqurachman Wahyudi
  • URL berhasil dicopy
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia dalam sambutannya pada penandatanganan framework agreement pengembangan industri baterai terintegrasi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia dalam sambutannya pada penandatanganan framework agreement pengembangan industri baterai terintegrasi.

KLIKJATIM.Com | Jakarta – PT PLN (Persero) selaku pemegang saham PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC), memberikan dukungan penuh terhadap kolaborasi strategis dalam mempercepat pengembangan industri baterai nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Komitmen ini diperkuat melalui penandatanganan framework agreement antara IBC, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTAM), dan Konsorsium HYD Investment Limited (HYD) yang dilaksanakan di Jakarta.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, yang hadir dalam acara tersebut menegaskan bahwa proyek ini merupakan langkah krusial dalam mewujudkan hilirisasi nasional sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Dengan total nilai investasi mencapai USD 6 miliar, proyek ini diproyeksikan memiliki kapasitas produksi baterai listrik hingga 20 gigawatt hour (GWh) dan mampu menyerap sekitar 10 ribu tenaga kerja baru.

“Saya ulangi arahan Bapak Presiden Prabowo, bahwa dalam rangka pengelolaan sumber daya alam, baik sekarang maupun ke depan, kita harus memprioritaskan kepentingan negara. Yang bisa dikerjakan dalam negeri, pakai tenaga kerja dalam negeri. Yang tidak bisa dikerjakan, baru ambil dari luar. Karena ini adalah bagian daripada komitmen kita. Jadi ini tidak hanya untuk baterai mobil (listrik), tapi ini juga didesain untuk baterai panel surya,” ujar Bahlil Lahadalia.

Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, menjelaskan bahwa kerja sama ini mencakup penguasaan teknologi dan pengembangan kapasitas industri domestik melalui transfer pengetahuan dari mitra global. Rangkaian proyek ini akan melibatkan pengembangan ekosistem baterai di Jawa Barat serta pembangunan tambang dan smelter di Halmahera Timur, Maluku Utara.

“Melalui kemitraan dengan pelaku industri global terkemuka, kami ingin memastikan terjadinya transfer pengetahuan dan teknologi yang akan memperkuat fondasi industri baterai terintegrasi nasional dalam jangka panjang, sekaligus mendukung agenda transisi energi Indonesia. Jadi, ini masih awal. Setelah ini masih akan ada joint feasibility study, baru nanti ada definitive agreement dan seterusnya. Jadi, ini awal dari perjalanan bersama ANTAM dan Konsorsium HYD. Kita harapkan, dalam tahun ini juga bisa diselesaikan,” jelas Aditya Farhan Arif.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, memandang industri baterai terintegrasi sebagai elemen kunci dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Bagi PLN, penguatan ekosistem ini tidak hanya mendukung kendaraan listrik, tetapi juga mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan melalui sistem penyimpanan energi yang lebih andal dan berbasis produk dalam negeri.

"Industri baterai terintegrasi menjadi elemen kunci dalam membangun sistem kelistrikan yang lebih adaptif dan andal. Bagi PLN, penguatan ekosistem baterai dalam negeri mendukung pemanfaatan energi terbarukan secara optimal, mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik, serta memperkuat ketahanan pasokan energi nasional,” tutur Darmawan Prasodjo.

Proyek strategis ini diharapkan menjadi katalisator bagi kemandirian energi Indonesia, sekaligus memposisikan bangsa sebagai pemain utama dalam rantai pasok baterai global guna mendukung tercapainya target Net Zero Emissions.

Editor :