klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Dosen FISH UNESA Bersama PPI Taiwan Dorong Penguatan Identitas Budaya Diaspora Indonesia

avatar Abdul Aziz Qomar
  • URL berhasil dicopy

KLIKJATIM.Com | Surabaya — Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali menunjukkan komitmennya dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertaraf internasional. Kali ini, Dr. Niswatin, S.Pd., M.Pd., dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) UNESA, menggandeng Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Taiwan dalam program bertajuk penguatan literasi budaya lokal sebagai upaya menjaga identitas bangsa di era global.

Program ini digelar sebagai respons atas tantangan yang dihadapi generasi muda Indonesia di luar negeri, khususnya dalam mempertahankan nilai-nilai budaya lokal di tengah derasnya arus globalisasi, modernisasi, serta pengaruh budaya asing. Diaspora Indonesia, termasuk mahasiswa dan pelajar di Taiwan, berada pada posisi strategis sekaligus rentan dalam menjaga kesinambungan identitas kebangsaan.

Dalam pemaparannya, Dr. Niswatin menegaskan bahwa literasi budaya lokal tidak hanya sebatas mengenali tradisi, adat, atau kesenian daerah. Lebih dari itu, literasi budaya mencakup pemahaman mendalam terhadap nilai, filosofi, serta konteks sosial dan historis yang melekat pada kebudayaan tersebut.

“Literasi budaya lokal merupakan fondasi penting pembentukan karakter kebangsaan. Bagi diaspora Indonesia, hal ini menjadi jangkar identitas agar tidak terlepas dari akar budaya di tengah kehidupan global,” ujar Dr. Niswatin.

Ia menambahkan, penguatan literasi budaya perlu dilakukan secara partisipatif dan kontekstual, dengan menjadikan pengalaman lintas budaya mahasiswa Indonesia di luar negeri sebagai sumber refleksi dan pembelajaran.

Kolaborasi antara FISH UNESA dan PPI Taiwan menjadi contoh sinergi positif antara institusi akademik dalam negeri dengan komunitas diaspora. Perwakilan PPI Taiwan menilai kegiatan tersebut sangat relevan dengan kebutuhan mahasiswa Indonesia yang hidup di lingkungan multikultural.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya diajak mengenal budaya daerah asal masing-masing, tetapi juga merefleksikan maknanya dalam konteks kehidupan global,” ungkapnya.

Kegiatan pengabdian dikemas dalam bentuk seminar interaktif, diskusi reflektif, serta pemetaan praktik budaya lokal. Peserta diberi ruang untuk berbagi pengalaman dan cerita tentang tradisi lisan, kesenian rakyat, kearifan lokal, hingga ritual adat dari berbagai daerah di Indonesia.

Selain penguatan identitas, kegiatan ini juga menekankan pentingnya literasi budaya sebagai sarana membangun kesadaran multikultural dan toleransi global. Menurut Dr. Niswatin, pemahaman yang kuat terhadap budaya sendiri justru menjadi modal utama dalam membangun dialog antarbudaya yang setara dan bermartabat.

Diskusi yang berlangsung dinamis turut mengangkat berbagai tantangan pelestarian budaya, seperti menurunnya minat generasi muda, dominasi budaya populer global, serta keterbatasan ruang ekspresi budaya di luar negeri.

Sebagai tindak lanjut, program ini dirancang berkelanjutan melalui pembentukan forum literasi budaya diaspora, pengembangan konten digital berbasis budaya lokal, serta integrasi nilai-nilai budaya dalam aktivitas komunitas PPI Taiwan. Peserta juga didorong menjadi duta budaya informal yang mampu memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia di kancah internasional.

“Kami berharap mahasiswa Indonesia di luar negeri tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menjadi agen pelestari budaya dan representasi nilai luhur bangsa,” tegas Dr. Niswatin.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen UNESA dalam mendorong internasionalisasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat yang adaptif terhadap dinamika global. Kolaborasi ini diharapkan menjadi model berkelanjutan antara perguruan tinggi dan diaspora Indonesia di berbagai negara, serta memperkuat budaya lokal sebagai aset strategis bangsa.

Editor :