klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Warga Cemas Ekosistem Rusak, Pemkab Sumenep Bergerak Bersihkan Tumpahan CPO di Gili Iyang

avatar Hendra
  • URL berhasil dicopy
TERDAMPAR. Kapal tongkang pengangkut CPO kandas di pesisir utara Pulau Gili Iyang, Kecamatan Dungkek, Sumenep, diduga akibat cuaca buruk dan menyebabkan tumpahan minyak ke pantai. (Ist/Klikjatim)
TERDAMPAR. Kapal tongkang pengangkut CPO kandas di pesisir utara Pulau Gili Iyang, Kecamatan Dungkek, Sumenep, diduga akibat cuaca buruk dan menyebabkan tumpahan minyak ke pantai. (Ist/Klikjatim)

KLIKJATIM.Com | Sumenep - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, memberikan respons cepat terhadap insiden tumpahan minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang mencemari wilayah pesisir utara Pulau Gili Iyang, Kecamatan Dungkek. Minyak yang meluber ke area pantai tersebut diduga kuat berasal dari kapal tongkang milik Indo Ocean Marine yang kandas setelah dihantam cuaca ekstrem di perairan setempat.

Meskipun secara administratif belum ada laporan resmi dari Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka) Dungkek, pihak kabupaten telah mengambil langkah sigap. Kepala Bagian Perekonomian Energi dan Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Kabupaten Sumenep, Dadang Dedy Iskandar, mengungkapkan bahwa informasi awal telah diterima secara informal oleh pihaknya.

“Secara resmi memang belum ada laporan masuk, tetapi kami sudah mendapatkan informasi awal mengenai kejadian itu,” ujar Dadang pada Sabtu (24/1) siang.

Dadang menegaskan bahwa Pemkab Sumenep berkomitmen untuk segera bertindak guna mengamankan serta mensterilkan area pesisir yang terdampak. Fokus utama saat ini adalah mencegah dampak pencemaran agar tidak meluas lebih jauh ke area laut lainnya.

“Kami akan segera turun ke lapangan untuk mengamankan lokasi dan mencegah pencemaran agar tidak meluas,” tuturnya.

Selain upaya teknis di lapangan, Pemkab Sumenep juga berencana mengambil langkah tegas secara administratif. Mereka akan melayangkan surat kepada pihak perusahaan atau pemilik kapal untuk meminta pertanggungjawaban penuh atas insiden ini, terutama terkait pemulihan lingkungan yang terdampak.

“Kami akan menyurati pihak kapal agar bertanggung jawab atas insiden yang terjadi di Gili Iyang,” tegas Dadang.

Dalam pelaksanaannya, Pemkab akan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumenep untuk memastikan ekosistem laut tetap terjaga dan aktivitas ekonomi nelayan setempat tidak terganggu. Insiden ini bermula saat kapal tongkang Indo Ocean Marine yang mengangkut sekitar 3.000 kiloliter CPO dari Kalimantan menuju Gresik menabrak karang di perairan utara Pulau Gili Iyang akibat cuaca buruk, yang memicu kebocoran pada lambung kapal.

Jumanto, selaku Bosun atau ABK senior kapal tersebut, membeberkan kronologi kejadian yang bermula pada Kamis (22/1). Saat melintas di perairan Sumenep sekitar pukul 18.50 WIB, kapal terjebak gelombang tinggi, angin kencang, dan hujan lebat.

“Cuaca sangat buruk. Gelombang besar dan angin kencang terus menghantam kapal,” ujar Jumanto.

Kondisi yang semakin tidak terkendali memaksa kapal untuk transit di sekitar Pulau Gili Iyang. Namun, sekitar pukul 21.00 WIB, ombak besar justru menyeret tongkang ke arah pesisir. Demi keselamatan, tugboat pemandu memutuskan melepaskan tali penarik, meninggalkan tongkang dalam kondisi terombang-ambing hingga sempat miring ke sisi kanan.

“Kapal sempat miring, dan kami bertahan sambil menunggu bantuan,” tuturnya mengenang saat ia bersama tiga ABK lain dan seorang personel kepolisian terperangkap di atas kapal.

Beruntung pada Kamis pagi sekitar pukul 06.00 WIB, proses evakuasi berhasil dilakukan dengan bantuan warga sekitar. Jumanto pun membenarkan adanya kebocoran tersebut.

“Saya tidak melihat langsung minyaknya tumpah, tapi saat dicek memang ada kebocoran di lambung kiri,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa rute melalui perairan Sumenep ini merupakan pengalaman pertama bagi kapal tersebut dalam pengiriman dari Kalimantan Selatan ke Gresik.

Di sisi lain, keresahan dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. Moh. Yusuf, seorang warga Kecamatan Dungkek, mengonfirmasi bahwa tumpahan minyak tersebut telah memicu kecemasan di kalangan warga pesisir.

“Warga cemas karena takut tumpahan minyak ini merusak lingkungan,” pungkasnya.

Editor :