KLIKJATIM.Com | Sumenep – Menjelang libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di wilayahnya masih dalam kondisi aman dan terkendali.
Kepastian itu disampaikan usai pemantauan langsung ke sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) bersama tim pengawas.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda Kabupaten Sumenep, Dadang Dedy Iskandar, menyebut pasokan BBM bersubsidi jenis biosolar dan pertalite secara administratif masih mencukupi hingga akhir 2025. Ia menegaskan tidak ditemukan indikasi kekurangan stok berdasarkan data kuota yang tersedia.
“Kuota BBM subsidi jenis gas oil (GBT) di Sumenep tahun 2025 sebesar 44.047 kiloliter. Hingga akhir November realisasinya mencapai 38.850 kiloliter, sehingga masih tersisa sekitar 5.197 kiloliter,” ujar Dadang, Rabu (24/12).
Untuk jenis pertalite, Dadang menyampaikan kondisi serupa. Tahun ini, kuota pertalite di Kabupaten Sumenep ditetapkan sebesar 75.296 kiloliter, dengan realisasi penyaluran hingga akhir November mencapai 64.398 kiloliter.
“Dengan sisa kuota tersebut, kebutuhan pertalite masyarakat dipastikan masih dapat terpenuhi sampai akhir tahun,” jelasnya.
Ia menambahkan, Pemkab Sumenep terus berkoordinasi dengan Pertamina guna menjaga kelancaran distribusi, khususnya pada periode meningkatnya mobilitas masyarakat saat libur panjang. Pengawasan distribusi BBM bersubsidi juga melibatkan aparat kepolisian dan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD).
“Pengawasan tidak hanya soal ketersediaan, tetapi juga untuk mencegah penyimpangan penyaluran agar BBM subsidi benar-benar dinikmati oleh masyarakat yang berhak,” tegas Dadang.
Namun, di tengah klaim kecukupan tersebut, antrean panjang kendaraan justru terjadi di sejumlah SPBU, terutama untuk pembelian solar. Sejak beberapa hari terakhir, antrean kendaraan roda empat, didominasi truk dan mobil angkutan barang, terlihat mengular hingga ke badan jalan.
Pantauan di SPBU Desa Paberasan, Kecamatan Kota Sumenep, sejak Senin (22/12/2025) malam, menunjukkan antrean panjang kendaraan yang menunggu giliran pengisian solar. Kondisi serupa juga terpantau di SPBU Desa Kolor, Kecamatan Kota Sumenep, serta SPBU Desa Gedungan, Kecamatan Batuan.
Imam, seorang sopir truk, mengaku kesulitan mendapatkan solar dalam beberapa hari terakhir. Situasi tersebut berdampak langsung pada kelancaran aktivitas kerjanya.
“Solar mulai susah didapat sejak beberapa hari ini. Begitu datang, antreannya langsung panjang. Kadang harus menunggu sampai malam,” keluh Imam.
Akibat keterbatasan pasokan di SPBU, ia terpaksa menunda pengiriman barang. “Pernah saya baru dapat solar malam hari, akhirnya pengiriman harus ditunda keesokan harinya,” imbuhnya.
Keluhan senada disampaikan Malik, pengguna kendaraan diesel lainnya. Ia menyebut antrean panjang hampir selalu terjadi setiap kali hendak membeli solar.
“Sekarang hampir setiap mau beli solar pasti antre lama,” ujarnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan bahwa Pertamina telah melakukan penyesuaian dan penambahan kuota di masing-masing SPBU untuk menghadapi lonjakan kebutuhan BBM selama periode Nataru.
“Untuk menghadapi Nataru, kuota di tiap SPBU sebenarnya sudah disesuaikan dan ditambah,” kata Ahad.
Namun demikian, ia menegaskan penyaluran BBM bersubsidi tetap dibatasi oleh kuota yang telah ditetapkan pemerintah. Apabila kuota tersebut telah habis, Pertamina tidak dapat melakukan penambahan pasokan tanpa instruksi resmi.
“Jika kuota sudah habis, kami tidak diperbolehkan melakukan dropping tambahan, kecuali ada instruksi dari pemerintah,” jelasnya.
Ahad juga meluruskan pemahaman di masyarakat mengenai perbedaan kuota dan stok BBM.
“Kuota itu bukan stok. BBM tersedia di terminal, tetapi penyaluran biosolar bersubsidi dilakukan sesuai kuota yang ditugaskan. Jadi meskipun barang ada, penyalurannya tetap mengikuti batas kuota,” pungkasnya.
Editor : Abdul Aziz Qomar