KLIKJATIM.Com | Sumenep - Upaya pemerintah untuk memperkenalkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan coding di jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) belum sepenuhnya berjalan di Kabupaten Sumenep, Madura.
Keterbatasan sumber daya manusia menjadi penghambat utama penerapan dua mata pelajaran baru tersebut.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebelumnya menargetkan agar pembelajaran AI dan coding mulai diterapkan secara menyeluruh pada tahun ajaran 2025/2026. Namun di lapangan, kesiapan tenaga pendidik di daerah masih jauh dari harapan.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep, Agus Dwi Saputra, mengakui bahwa program pengenalan dua mata pelajaran tersebut belum berjalan merata di wilayahnya.
“Beberapa sekolah memang sudah mulai mengenalkan dasar-dasarnya, tetapi implementasinya belum seragam di semua satuan pendidikan,” kata Agus, Sabtu (1/11).
Menurut Agus, keterlambatan ini disebabkan oleh minimnya kemampuan guru dalam memahami dan mengajarkan materi AI serta coding. Untuk itu, pemerintah pusat sedang melakukan pelatihan intensif guna meningkatkan kompetensi tenaga pendidik.
“Sudah ada sejumlah guru yang mengikuti kursus peningkatan kompetensi. Pelatihannya difokuskan pada penguasaan dasar-dasar AI dan pemrograman. Hari ini merupakan hari terakhir kegiatan tersebut,” jelasnya.
Selain faktor SDM, persoalan infrastruktur juga menjadi tantangan tersendiri. Fasilitas pendukung seperti Interactive Flat Panel (IFP) yang berfungsi sebagai perangkat pembelajaran digital interaktif belum tersedia merata di semua sekolah.
“Perangkat IFP dikirim langsung dari pemerintah pusat ke sekolah-sekolah tertentu, tanpa melalui dinas. Ada yang dikirim secara paket, ada pula yang diantarkan langsung,” imbuh Agus.
Sebagai langkah percepatan, Kemendikdasmen RI kini menunjuk Co-Kapten, yakni tenaga pendamping yang bertugas membimbing para guru dalam memahami AI dan coding di tingkat lokal.
“Proses pendampingan dilakukan melalui forum Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS). Diharapkan dengan cara ini, guru-guru bisa saling berbagi praktik baik dalam pembelajaran AI dan coding,” tutur Agus menutup penjelasannya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ambisi pemerintah untuk memperkuat literasi digital sejak dini masih berhadapan dengan realitas kesiapan daerah.
Tanpa percepatan peningkatan kapasitas guru dan pemerataan fasilitas, penerapan AI dan coding di sekolah dasar dan menengah diperkirakan akan berjalan lambat di Sumenep.
Editor : Wahyudi