KLIKJATIM.Com | Gresik - Sholawat menggema dari pengeras suara Masjid Baitul Mu’minin, Dusun Daun Timur, Desa Daun, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Sabtu (6/8/2025) pagi itu, suasana kampung tampak berbeda. Jalanan ramai oleh warga yang berbondong-bondong menuju masjid. Senyum, canda, dan pakaian terbaik mereka menandai satu hal: perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H/2025.
Di dalam masjid, pemandangan indah tersaji. Sebanyak 105 angkaan berjajar rapi. Bingkisan khas tradisi perayaan Maulid Nabi Muhammad atau biasa disebut Molod (Penyebutan masyarakat Bawean) ini tak sekadar berisi makanan. Ada aneka hidangan laut, hasil pertanian, jajanan basah, hingga kudapan khas Bawean seperti dodol dan rengginang. Semuanya disusun dengan penuh cinta dan pengorbanan. Untuk menyiapkan satu angkaan, warga rela merogoh kocek hingga Rp1 juta sampai Rp3 juta.
Namun yang paling ditunggu adalah robit—uang tunai yang diselipkan di kuncup hiasan angkaan. Robit bukan sekadar hiasan. Ia adalah simbol ikatan batin antara warga kampung dan para perantauan. Dari Singapura, Malaysia, Brunei, hingga Amerika, uang rupiah, ringgit, dan dolar mengalir sebagai wujud sedekah. Tahun ini, total robit yang terkumpul mencapai Rp36.130.000.
Baca juga: Hadiri Peringatan Maulid Nabi dan Haul K.H Musthofah, Pak Yes Ajak Kembangkan Potensi Pendidikan Pantura
[caption id="attachment_153953" align="alignnone" width="256"]
Angkaan yang dihiasi Robit dalam peringatan dan perayaan Maulid Nabi Muhammad di Pulau Bawean (Dok)[/caption]
Tak hanya kiriman uang, beberapa perantau bahkan pulang kampung. Aman (54), lelaki asal Desa Daun Timur yang puluhan tahun merantau di Johor, Malaysia, tak bisa menyembunyikan rasa harunya. “Alhamdulillah, baru pertama kali saya ikut Molod di sini. Meriah sekali. Bisa kumpul keluarga, bisa rasakan suasana kampung yang penuh berkah,” ujarnya sambil tersenyum.
Pengurus Takmir Masjid, Mujib Arsyad, pun menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh masyarakat dan perantauan. “Tradisi ini bukan hanya tentang makanan dan uang, tapi juga kebersamaan dan cinta kepada Rasulullah SAW,” katanya.
Puncak acara berlangsung penuh khidmat. Dimulai dari khataman Al-Qur’an, dzikir, tausiyah, hingga doa bersama. Setelah itu, hadiah angkaan diundi dan dipertukarkan antarwarga. Rangkaian Molod ditutup dengan tradisi makan bersama di tepi pantai. Hembusan angin laut, tawa anak-anak, dan hidangan yang dibuka bersama menciptakan kehangatan yang tak ternilai.
Bagi masyarakat Daun Timur, Molod bukan sekadar perayaan Maulid Nabi. Ia adalah warisan leluhur yang mengikat hati, menyatukan keluarga, dan menghubungkan mereka yang di rantau dengan tanah kelahiran. Di balik angkaan dan robit, tersimpan doa dan harapan agar cinta kepada Nabi Muhammad SAW terus hidup di setiap generasi. (qom)
Editor : Abdul Aziz Qomar