KLIKJATIM.Com | Jombang - Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional saat ini sudah memutuskan kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah dan beras, namun bagaimana kondisi perputaran jual belinya di Kabupaten Jombang?
Diketahui bahwa hal tersebut tercantum Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Republik Indonesia No.167/2024, tentang Fleksibilitas Harga Pembelian Gabah dan Beras Dalam Rangka Penyelenggaraan Cadangan Beras Pemerintah.
Sebagaimana diungkapkan Hudi salah satu petani dan penebas gabah padi di Kecamatan Kesamben, jika harga gabah kering panen (GKP) saat ini mengalami kenaikan dibanding keadaan sebelum dan sesudah hari raya lebaran lalu.
"Kalau sekarang di harga Rp6.000 per kilogram memang waktu sebelum dan sesudah hari raya kondisi hujan lebat, pabrik banyak yang tutup tidak ada yang beli di harga Rp5.200," ungkapnya Selasa, 30 April 2024 petang.
Ia menambahkan untuk wilayah kecamatan Kesamben untuk masa panen padi hampir berakhir, dan sejumlah petani mempersiapkan sawahnya untuk ditanami kembali.
"Saat ini hanya di Kecamatan Megaluh yang baru-baru ini mulai panen," lanjutnya.
Kenaikan harga GKP juga dikatakan oleh Hasyim di Kecamatan Megaluh yang saat ini masih berada di musim panen, berada di angka Rp5.900 yang alami kenaikan dari harga Rp5.500.
"Gabah dari petani ini harga Rp5.900, terendah Rp5.500 waktu puasa. Di Desa ini baru mulai panen, tapi di Desa lain sudah ada yang habis," katanya.
Hal senada juga dibeberkan anggota Perpadi Indonesia (Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras) Muhammad Soleh, untuk harga gabah di Kabupaten Jombang terendah Rp5.800.
"Hari ini harga terendah di Rp5.800, kalaupun dibawahnya ada Rp5.500 kualitasnya di kualitas nomor dua, Bahkan di Megaluh sekarang ada yang di harga Rp6.000-6.050," jelasnya.
Baca juga: Wabup Akui Harga Beras di Gresik Masih Mahal, Meski Sudah TurunMenurutnya ada kondisi harga gabah turun, namun itu terjadi pada momen sebelum hari raya lebaran dimana faktor cuaca dan kondisi padi kurang baik.
"Perkiraan saya memang sebelum hari raya, petani kesulitan cari alat untuk panen (kombi), padi disawah terlalu lama juga rusak akhirnya dibeli tengkulak yang punya alat dan untun kebutuhan hari raya ya dikasihkan aja harga berapapun," bebernya.
Sementara itu Pimpinan Cabang Bulog Mojokerto mencakup wilayah Jombang, Rusli mengenai harga gabah bersama timnya melakukan cek lapangan di sejumlah kecamatan yakni Bareng, Mojowarno, Sumobito, Kesamben, Ploso, Megaluh, Tembelang yang rata-rata harga gabah di angka Rp6.000-6.050 namun ada titik sebagian kecil di harga Rp5.800.
"Kami tidak menginginkan harga gabah murah di lapangan karena Pemerintah sudah memutuskan kenaikan harga untuk menambah pendapatan petani, produksi meningkat. Untuk gabah kering giling dari Rp6.300 naik ke Rp7.400 dan beras medium Rp11.000" katanya.
Terkait dengan adanya informasi harga gabah murah, menurut Rusli ada kondisi tertentu pada padi di sawah sehinggga kondisi tersebut dapat menyebabkan harganya turun.
"Ada informasi harga gabah dibawah Rp 5000, setelah kita telusuri itu padi yang tumbang, terendam air, hasilnya gak sebagus padi yang bagus, kemudian kondisi panen hujan jadi harganya diturunkan," ujarnya.
Lanjut Rusli jika padi dalam kondisi tidak bagus dengan berat air yang masuk banyak akan berpengaruh pada kualitas beras yang dihasilkan.
"Kalau baru tumbang 1-2 hari masih bisa, tapi kalau sudah lebih dari itu pasti beda apalagi terendam air padi bisa berwarna kecokelatan, selanjutnya saat digiling muncul pletik kuning itu orang tidak mau beli dengan harga standar," urainya.
Pun demikian menurut Rusli terkait dengan harga gabah Rp5.200-5.300 di petani wilayah Jombang berdasarkan informasi yang ia terima, kondisi tersebut terjadi sebelum hari raya lebaran lalu.
"Kami mendapat statemen itu dari beberapa pengepul di Jombang jika sebelum hari raya gabah dengan harga segitu karena salah satunya alat kombi yang susah cari, dan kondisi cuaca hujan lebat," pungkasnya. (qom)
Editor : Diana