klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Pertamina Jelaskan Penyebab Kelangkaan Solar dan Pertalite

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Pertamina (persero) memastikan terkait BBM dan LPG tetap aman. (ist)
Pertamina (persero) memastikan terkait BBM dan LPG tetap aman. (ist)

KLIKJATIM.Com | Jakarta - Sejumlah daerah sempat dilaporkan mengalami kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Solar. PT Pertamina (Persero) menyebut terhambatnya pasokan BBM subsidi ke SPBU adalah bagian dari respons kenaikan harga BBM jenis Pertamax pada Jumat (1/4/2022) yang menyebabkan pengguna kendaraan migrasi ke Pertalite.

PJS Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Subholding Commercial & Trading Pertamina Irto Ginting mengatakan pihaknya telah memastikan pasokan BBM subsidi ke SPBU pada saat ini telah lancar. Di samping itu, pasokan Solar dan Pertalite yang akan dipasok dinyatakan dalam keadaan aman.

Irto mengakui secara umum terjadi tren peningkatan konsumsi BBM masyarakat seiring dengan terus terkendalinya pandemi Covid-19. Konsumsi BBM masyarakat bahkan telah tercatat setara dengan rata-rata konsumsi pada saat periode sebelum pandemi yakni pada 2019.

"Pertamina juga terus memonitor secara real time dan memasok SPBU yang stoknya sudah mulai menipis untuk memenuhi kebutuhan masyarakat," ujar Irto dalam keterangannya, Kamis (7/4/2022).

Catatan Pertamina telah terjadi pergesaran konsumsi 10 -15�ri bahan bakar minyak jenis Pertamax ke Pertalite sebagai dampak dari keputusan menaikkan harga Pertamax pada 1 April 2022 lalu. Pada 1 April 2022, Pertamina telah menaikkan harga Pertamax dari sebelumnya kisaran Rp 9.000 sampai Rp 9.400 per liter menjadi Rp 12.500 sampai Rp 13.000 per liter, sebagai langkah penyesuaian atas tingginya harga minyak mentah dunia.

Keputusan menaikkan harga Pertamax membuat konsumen lantas beralih dengan membeli Pertalite yang dijual lebih murah hanya Rp 7.650 per liter, sehingga pergeseran pembelian itu membuat konsumsi Pertalite melonjak dan menimbulkan kelangkaan di sejumlah daerah.

Menurut Irto, pada Jumat dan Sabtu pekan lalu, sempat terjadi lonjakan permintaan pada BBM jenis Pertalite seiring dengan meningkatnya mobilisasi masyarakat, namun konsumsi masyarakat telah mulai melandai pada Minggu. Sementara itu, untuk mekanisme penyaluran BBM jenis Solar bersubsidi pihaknya masih mengacu pada regulasi Perpres No 191 Tahun 2014.

Volume solar subsidi mengikuti alokasi yang ditetapkan pemerintah. Pertamina sudah menyalurkan 11 persen kelebihan kuota untuk menormalisasi antrean. Menurut Irto, pada Jumat dan Sabtu pekan lalu, sempat terjadi lonjakan permintaan pada BBM jenis Pertalite seiring dengan meningkatnya mobilisasi masyarakat, namun konsumsi masyarakat telah mulai melandai pada Minggu.

Sementara itu, untuk mekanisme penyaluran BBM jenis Solar bersubsidi pihaknya masih mengacu pada regulasi Perpres No 191 Tahun 2014. Volume Solar subsidi mengikuti alokasi yang ditetapkan pemerintah.

"Potensi peralihan dari Pertamax ke Pertalite mungkin ada, namun belum bisa kita lihat dalam 2-3 hari pasca penyesuaian harga. Ini masih sementara saja nanti akan kita lihat dalam 1-2 minggu trennya," jelasnya.

Di lain pihak, Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) periode 2017-2021 Jugi Prajogio menilai setiap SPBU sudah sangat mumpuni untuk mengantisipasi kekurangan pasokan, terlebih Solar subsidi telah ditetapkan besaran kuotanya.

Jugi menuturkan, kelangkaan pasokan yang terjadi di Indonesia sejauh ini tidak disebabkan oleh rantai pasok BBM ke SPBU, namun disebabkan karena adanya penyelewangan oleh oknum tertentu. Pasalnya, kuota BBM bersubsidi telah ditetapkan untuk mencukupi kebutuhan tiap daerah. "Untuk menaikkan kuota Pertalite juga menjadi sulit pada kondisi saat ini karena akan menjadi beban Pertamina dan Pemerintah," pungkasnya. (ris)

Editor :