KLIKJATIM.Com | Gresik — Hilangnya sebagian barang bukti (BB) kasus penangkapan nelayan cantrang di perairan Pulau Bawean mulai ada titik terang. Kabar terbaru, saat ini BB berupa dua guci gerabah diduga peninggalan Dinasti Ming tersebut sudah diserahkan dari warga kepada pihak desa melalui Kepala Dusun (Kasun) Tanjunganyar, Desa Lebak Pulau Bawean.
[irp]
Saat dikonfirmasi, Kasun Tanjunganyar, Saifuddin pun membenarkan terkait penyerahan BB berupa dua guci dari nelayan sekitar. Kini, barang tersebut sudah diamankan di rumahnya.
“Diterima istri di rumah. Kami masih menunggu, kalau memang harus diserahkan sebagai barang bukti, kami akan serahkan. Karena ini sudah masuk hukum harus sesuai prosedur hukum,” terang Saifuddin saat dihubungi melalui sambungan selulernya, Sabtu (14/8/2021).
Sementara itu Kasatpolair Polres Gresik, AKP Poerlaksoni melalui Kanit Gakkum, Aiptu Hajar Widagdo mengatakan, pihaknya akan segera mengambil dan meminta dua guci tersebut untuk dikembalikan kepada pemiliknya. “Insya Allah akan kami ambil dan diserahkan kepada pemilik dan diteruskan ke Purbakala,” ujarnya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Gresik, Agustin Halomoan Sinaga melalui Kepala Seksi Sejarah dan Purbakala, Khairil Anwar mengatakan bahwa penelitian atas temuan keramik Tiongkok jenis martabani yang bisa diduga dari periode Qing atau Ming merupakan bagian barang bukti atas penangkapan kapal cantrang harus tetap ditindaklanjuti.
“Penting untuk ditindaklanjuti, mengingat penelitian tim balai arkeologi Yogyakarta sejak 2015-2018 mengungkapkan peran Bawean yang besar dalam jalur maritim Nusantara. Dalam penelitian tersebut di daratan Bawean banyak ditemukan keramik Tiongkok termasuk jenis martabani,” urainya.
Menurutnya, penelitian lebih lanjut atas temuan keramik martabani kali ini diharapkan bisa mengungkap perdagangan bangsa Tiongkok pada masa itu. Yaitu dengan datang berdagang langsung ke Bawean, atau dibawa oleh kapal dagang bangsa lain?
“Bagian ini memang masih menjadi sisi gelap dari penelitian arkeologi di Bawean. Dengan penelusuran dari data kali ini diharapkan bisa mengungkapkan sisi gelap yang tentunya akan berdampak besar bagi ilmu pengetahuan kesejarahan Bawean,” jelasnya.
Khairil menegaskan, dalam penelitian tim balai arkeologi Yogyakarta memang menemukan terkait temuan fragmen keramik Tiongkok yang lokasi berada di perairan dangkal laut Bawean.
"Tapi belum ditemukan titik shipwrecknya. Kami kuat menduga bahwa fragmen keramik di beberapa lokasi pantai Bawean tersebut berasal dari shipwreck yang terletak lebih ke tengah,” paparnya.
Kini, pihaknya mengaku akan melakukan tindak lanjut bersama tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, balai arkeologi Yogyakarta dan Direktorat Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP).
“Semoga tim gabungan tersebut bisa segera turun. Karena besarnya potensi cagar budaya di Kabupaten Gresik yang secara kesejarahan memiliki peran besar dan penting bagi tumbuh berkembangnya kota bandar kejayaan Nusantara, Gresik membutuhkan peran arkeolog dalam melestarikan, memanfaatkan dan mengembangkan tinggalan masa lalunya agar memberi dampak bagi pembangunan ekonomi daerah dan masyarakatnya,” pungkasnya. (nul)
Editor : Redaksi