KLIKJATIM.Com | Sumenep – Kebijakan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang resmi diberlakukan sejak 1 Juli 2026 ternyata belum membawa perubahan berarti terhadap kepadatan antrean di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Sumenep, Madura.
Hingga saat ini, lajur pengisian bahan bakar di lapangan masih terus didominasi oleh para pengendara yang membeli Pertalite dan Pertamax, dua jenis BBM yang harganya memang tidak mengalami penyesuaian.
Berdasarkan pantauan langsung di lapangan pada Minggu (5/7/2026), antrean panjang kendaraan roda dua maupun roda empat masih terlihat jelas di SPBU Pertamina 54.694.07 yang berada di Desa Paberasan, Kecamatan Kota Sumenep. Situasi serupa yang cukup padat juga dijumpai di SPBU Pertamina 53.694.10 di wilayah Kecamatan Batuan.
Di kedua titik lokasi tersebut, mayoritas kendaraan menumpuk untuk mengisi lini Pertalite dan Pertamax. Sebaliknya, dispenser pengisian BBM nonsubsidi kasta tinggi seperti Pertamax Turbo maupun Dexlite terlihat jauh lebih lengang dan sepi dari aktivitas kendaraan.
Salah seorang warga asal Kecamatan Gapura, Sulaiman, mengaku bahwa pemandangan antrean mengular di SPBU seolah sudah menjadi rutinitas harian bagi masyarakat setempat, terutama ketika memasuki jam-jam sibuk.
"Antrean panjang masih terus terjadi. Biasanya menumpuk pas sore hari, kadang-kadang juga pagi. Yang paling sering saya lihat itu di SPBU Paberasan," keluh Sulaiman, Minggu (5/7/2026).
Senada, Manajer SPBU Pertamina 54.694.01 Desa Kolor, Kecamatan Kota, Yudi Ananta, menilai turunnya harga komoditas BBM nonsubsidi belum memberikan dampak instan yang signifikan terhadap dinamika konsumsi riil di lapangan. Pola konsumsi masyarakat dinilai masih sangat bergantung pada varian bahan bakar yang harganya konstan.
"Belum terasa langsung dampaknya. Mayoritas konsumen tetap mencari Pertalite dan Pertamax. Dua jenis BBM itu yang paling tinggi perputarannya dan kebetulan harganya kan tidak turun," jelas Yudi.
Yudi menambahkan, SPBU yang dikelolanya sebenarnya juga menyediakan produk Dexlite untuk kendaraan bermesin diesel. Namun, angka permintaannya relatif kecil karena pangsa pasarnya yang sangat spesifik.
"Kami juga menjual Dexlite, tetapi pembelinya terbatas hanya mobil-mobil tertentu saja. Tidak bisa sebanyak volume Pertalite dan Pertamax," imbuhnya.
Menurut analisisnya, selama pola konsumsi primer masyarakat masih terpusat secara masif pada Pertalite dan Pertamax, penyesuaian harga BBM nonsubsidi jenis lain diperkirakan belum akan mampu mengurai kepadatan antrean di SPBU dalam waktu dekat.
Sebagai informasi, per 1 Juli 2026 pemerintah melalui PT Pertamina (Persero) telah resmi menyesuaikan harga tiga jenis BBM nonsubsidi secara nasional. Rinciannya, harga Pertamax Turbo turun dari Rp20.750 menjadi Rp19.300 per liter (turun sekitar 7 persen).
Kemudian untuk lini diesel, Pertamina Dex mengalami penurunan tajam dari Rp24.800 menjadi Rp21.150 per liter (turun sekitar 15 persen). Sementara itu, produk Dexlite turun dari Rp23.000 menjadi Rp19.700 per liter, atau setara dengan penurunan sekitar 14 persen.
Editor : Fatih