klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Sampai Ampun-ampun, Pembuat Peti Mati di Tulungagung Kebanjiran Order

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Supono saat mengerjakan peti mati buatannya.
Supono saat mengerjakan peti mati buatannya.

KLIKJATIM.Com | Tulungagung - Permohonan peti mati di Tulungagung sedang mengalami peningkatan hingga 100 persen dalam beberapa bulan terakhir ini. Jika biasanya dalam setiap hari ada 3 pesanan, kini naik drastis menjadi 6 sampai 7 pesanan perhari.

[irp]

Tak ayal, kondisi tersebut pun membuat pengusaha peti mati di daerah setempat mengaku sampai kewalahan melayani orderan. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Supono (70), dan Suhajar (60), warga Desa/Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung.

Saking banyaknya orderan, duo pengusaha atau pembuat peti mati sejak tahun 1980an ini pernah sampai angkat tangan alias menyerah. Bayangkan saja, dalam sehari mereka berdua sempat diminta membuat 40 peti mati oleh salah satu rumah sakit. Tapi karena keterbatasan tenaga, sehingga orderan tersebut akhirnya ditolak. "Tenaganya ndak kuat mas," ucap Supono.

Dijelaskan, dirinya (Supono) dan Suhajar mempunyai bagian masing-masing dalam mengerjakan pembuatan peti mati. Untuk Supono lebih banyak mengerjakan proses pembuatannya. Sedangkan tugas Suhajar lebih banyak bertindak sebagai pemegang modal.

Suhajar menerangkan, alat-alat yang digunakan untuk membuat peti mati dari bahan kayu partikel ini terbilang masih manual. Antara lain gergaji, palu, dan pensil serta penggaris sebagai penanda.

"Awalnya membuatkan peti untuk perkumpulan mas. Kemudian keterusan sampai sekarang," ucap Suhajar.

Lebih rinci dijelaskan proses pembuatannya ketika ada pesanan. Awalnya membentuk pola di atas kayu partikel yang telah disiapkan. Kemudian memotongnya menggunakan peralatan yang telah disediakan.

Namun, kadang dirinya juga tidak selalu menunggu pesanan datang. Stok peti mati dengan ukuran standar juga telah disiapkan untuk memudahkan pekerjaan.

"Bahannya itu dari partikel, kemudian pola digambarkan di atasnya dan digergaji sesuai dengan pola yang ada. Biasanya satu peti itu selesai dalam 2 jam, karena yang mengerjakan hanya satu," terangnya.

Untuk satu buah peti mati dibanderol Rp 360 ribu. Namun tidak selamanya peti mati buatannya dijual dengan harga tersebut. Jika ada warga kurang mampu yang membutuhkan peti, maka pihaknya memilih untuk menerima pembayaran seikhlasnya.

"Ya kalau RT-nya ngomong ini yang meninggal orang ndak mampu, ya sudah dibayar seikhlasnya saja," tambah Supono. (nul)

Editor :