klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Dibisiki Nyi Roro Kidul Akan Ada Tsunami di Pantai Sine, Warga Tulungagung Ini Akhirnya Ngaku Hoaks

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Perwakilan keluarga saat menyampaikan permohonan maaf. (Ist)
Perwakilan keluarga saat menyampaikan permohonan maaf. (Ist)

KLIKJATIM.Com | Tulungagung - Pesan suara yang disebarkan melalui WhatsApp oleh NK, perempuan asal Kecamatan Kalidawir, Tulungagung pada Rabu (30/6/2021) memicu kegemparan warga di sekitar pantai sine. Tepatnya yang berada di Desa Kalibatur, Kecamatan Kalidawir.

[irp]

Pesan suara yang beredar di masyarakat telah membuat warga Desa Kalibatur panik. Mereka berbondong-bondong mencari tempat yang lebih tinggi sejak Kamis (1/7/2021) malam hingga Jumat (2/7/2021) dini hari.

Usut punya usut, ternyata pesan suara yang disebar oleh NK berisi tentang pengakuannya melihat seseorang yang dirasuki arwah utusan Nyi Roro Kidul. Yaitu tokoh mistis yang dikenal warga sebagai penguasa pantai selatan.

Nah, utusan tersebut mengingatkan akan adanya tsunami dengan ketinggian ombak mencapai 23 meter, dan akan terjadi pada Jumat (2/7/2021) jam 02.00 WIB.

Akibat keresahan ini sehingga membuat pemeritah desa setempat dan Polsek Kalidawir mengambil sikap tegas. Yaitu dengan menenangkan warga yang berbondong-bondong mengungsi.

Kades Kalibatur, Asim mengaku bahwa pihaknya langsung berupaya meredam kepanikan warga sejak berhembusnya kabar tersebut. Setelah warga pun diminta untuk kembali ke rumahnya masing masing.

"Kami ya langsung berupaya menenangkan warga sekitar, jangan sampai termakan isu," jelasnya.

Bersama dengan Polsek Kalidawir, pihaknya berupaya melakukan penelusuran kepada orang yang pertama kali menyebarkan isu tersebut. Ketika ditelusuri, ternyata penyebar isu tidak bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya.

"Sudah kita temui orang yang membuat rekaman itu, tapi pas ditanya malah tidak bisa menjelaskan," terangnya.

Sementara itu Kapolsek Kalidawir, AKP Santoso yang dikonfirmasi mengatakan, pihaknya telah melakukan mediasi dengan orang yang pertama kali membuat pesan suara tersebut. "Kita upayakan mediasi, jangan sampai melangkah ke ranah hukum," ucapnya.

Usai menjalani mediasi, akhirnya perwakilan dari keluarga NK yang hadir dalam mediasi mengakui kesalahannya dan meminta maaf dengan membuat surat pernyataan yang dibacakan serta dibagikan kepada warga yang merasa dirugikan.

"Ya mediasi telah dilakukan, perwakilan keluarga juga sudah meminta maaf. Kita sampaikan kepada masyarakat agar jangan gampang terpengaruh isu yang belum jelas kebenarannya," pungkas Santoso. (nul)

Editor :