klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Jurus Baru Gubernur Khofifah Tekan Penyebaran Kasus Covid-19 di Jatim

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Forkopimda provinsi dan kabupaten/kota menggelar rakor persiapan pelaksanaan PPKM Darurat di Jatim secara virtual. (screenshot/klikjatim.com)
Forkopimda provinsi dan kabupaten/kota menggelar rakor persiapan pelaksanaan PPKM Darurat di Jatim secara virtual. (screenshot/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Surabaya – Kasus Covid-19 di Jatim melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir. Pemprov Jatim juga terus melakukan berbagai upaya. Salah satunya dengan mematangkan pelaksanaan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat.

[irp]

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menyebut pada bulan Juni saja, Jatim telah melakukan ekspansi besar-besaran ICU Isolasi dari 850 bed menjadi 1.219 bed. Kemudian isolasi dari 7.110 bed menjadi 12.515 bed.

Kendati demikian, namun dalam upaya mengatasi lonjakan kasus Covid-19 bagi Khofifah belum cukup. Menurutnya, jika hanya menangani hilirnya saja tidak akan pernah cukup. Maka perlu ditarik rem darurat untuk menghentikannya melalui pembatasan mobilitas sosial.

"PPKM Darurat sesuai instruksi Presiden Jokowi ini menjadi harapan besar bagi kita, untuk menekan penyebaran kasus Covid-19 di Jawa Timur. Karenanya, koordinasi dan sinergi terkait pelaksanaan PPKM Darurat dengan berbagai pihak terkait harus terus dilakukan," ujar Khofifah, Kamis (1/7/2021).

Dia pun menginstruksikan kepada setiap daerah di Jatim agar mampu melakukan percepatan proses vaksinasi. Hal ini dilakukan sambil menyiapkan teknis PPKM Darurat yang akan diatur di Inmendagri.

"Kami dapatkan satu kabupaten/kota di Jatim memiliki target rentang antara 10-50 ribu vaksinasi per hari. Mohon para bupati/walikota memperhatikan dan berusaha semaksimal mungkin mencapai break down target per kabupaten/kota ini," pintanya.

Sementara itu Pakar Epidemiologi Unair, Windhu Purnomo menilai kasus Covid-19 di Jatim sudah mencapai third wave. Oleh sebab itu, maka perlu adanya pembatasan tegas yang membuat orang tetap stay at home.

"Sembari kita melakukan pencegahan yang sifatnya promotif, preventif, kuratif maupun percepatan vaksinasi," tandasnya. (nul)

Editor :