Dijelaskan, permintaan peti mati memilikinya rata rata dipesan dari rumah sakit rujukan Covid-19 di Kota maupun Kabupaten Mojokerto. Terlebih dalam kurun waktu dua Minggu terakhir kurang lebih dirinya sudah memproduksi 20 lebih peti mati. Dari jumlah tersebut pun, dirinya menuturkan sudah menolak pesanan permintaan peti mati yang datang dari beberapa rumah sakit, lantaran minimnya pekerja maupun bahan juga lokasi tempat produksi yang terbilang cukup sempit. “Dalam sehari, minim bisa membuat 1 sampai dua peti mati, itupun melihat dari jumlah pekerja, satu pekerja mampu membuat satu peti mati saja. Kita juga terbatas lokasi sehingga membuatnya juga terbatas,”terangnya.
Selama ini, dirinya mempu menerima pemesanan peti mati dalam jumlah banyak lantaran adanya stok yang sudah disiapkan. Dia menjelaskan, dalam bisni peti mati dirinya tak melulu menonjolkan soal harga meski jumlah permintaan meningkat selama pamdemi, dirinya tak pernah menaikkan harga jual.
Dalam penjualan peti mati, dirinya hanya mematok harga 1 sampai 1,4 juta. Sedangkan peti bayi dijual Rp 600 ribu. “Harga ini sudah sesuai dengan kalkulasi, mulai dari bahan, tukang hingga biaya produksi, kita tak mengambil untung banyak,” kata dia. (ris)
Editor : Tsabit Mantovani