KLIKJATIM.Com | Ponorogo - Ada 10 orang yang mengaku kena tipu oleh 2 oknum anggota DPRD Ponorogo. Dugaan penipuan ini terkait permintaan barang atau order beras yang disebut untuk keperluan penyaluran bantuan pangan non tunai (BPNT).
[irp]
Namun kepastian penyaluran bantuan tersebut belum ada kejelasan. Sehingga mereka yang merasa tertipu pun wadul ke DPRD Ponorogo, Senin (28/6/2021).
Ketua DPRD Ponorogo, Sunarto mengatakan, ada 10 orang menyampaikan keluhan. Awalnya mereka mendapatkan order barang berupa beras untuk disalurkan dalam program BPNT.
"Dari 10 orang itu ada 320 ton beras terkumpul. Jika diuangkan total Rp 2 Miliar," ujar Sunarto usai menemui perwakilan warga tersebut.
Lebih jauh dijelaskan, alasan 10 orang tersebut mau menerima pesanan beras karena yang meminta adalah orang penting. Yaitu dua oknum anggota DPRD Ponorogo.
"Juga harganya dinaikkan. Misal sebelumnya Rp 8.300, yang menjanjikan ini membelinya Rp 8.400," terang politisi asal Nasdem ini.
Dari keterangan 10 orang tersebut menyebutkan, bahwa beras mereka dijanjikan akan diserap pada Mei. Namun nyatanya sampai Juni akhir tidak sedikit pun barang yang telah disiapkan diambil untuk dibeli.
"Kami sudah memanggil kepala dinas terkait. Ini yang saya maksud kepala dinas sosial untuk mencarikan solusi," urainya.
Pasalnya, mereka yang wadul tidak paham mekanisme dan percaya oknum anggota DPRD. Padahal sesuai aturan beras untuk BPNT sudah ada supplier yang menyediakan ke E-Warung.
"Belum lagi penyerapan turun saat panen. Karena permintaan beras BPNT itu berkurang. Biasanya 15 kilogram turun menjadi 10 kilogram," bebernya.
Untungnya, kata dia, barang belum dipakai. Tetapi mereka yang wadul ini merasa rugi karena sudah keluar modal lebih dulu.
"Mereka percaya karena diberi sak untuk packing beras BPNT dan diberi data kecamatan mana yang akan disalurkan," tegasnya.
Saat disinggung terkait 2 oknum anggota yang diduga bermain, Sunarto selaku ketua DPRD menyerahkan sepenuhnya kepada fraksi yang terkait. "Teguran dan lain-lain biar fraksi yang menentukan," imbuhnya.
Perlu diketahui bahwa kasus seperti ini tidak hanya terjadi sekali. Tapi sudah kedua kalinya. Untuk kejadian pertama, beras yang ada tidak sebanyak beras kali ini.
"Ini muncul lagi. Tapi oknumnya sama atau tidak, ini yang saya belum tahu," pungkasnya. (nul)
Editor : Fauzy Ahmad