klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Ini Sebab Umbi Gadung Mematikan, Jika Tak Diproses Dengan Benar

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Umbi maut yang dikonsumsi warga Tulungagung
Umbi maut yang dikonsumsi warga Tulungagung

KLIKJATIM.Com |Tulungagung - Meninggalnya satu warga Tulungagung usai menyantap umbi gadung, pada Kamis (10/06) kemarin masih menyisakan duka mendalam pada keluarga korban.

[irp]

Bagaimana tidak, umbi gadung yang dikenal sebagai bahan baku krupuk gadung menjadi penyebab meninggalnya warga tersebut.

Inspektur Pangan Kabupaten Tulungagung, Masduki yang dikonfirmasi pada Jumat (11/06) mengatakan, umbi gadung merupakan salah satu pangan lokal yang dikenal enak dan banyak penggemarnya, walaupun memang mengandung sianida dan bisa berakibat fatal jika tidak diproses dengan baik sebelum dikonsumsi.

""Pihaknya tidak bisa memastikan, ada atau tidaknya kesalahan prosedur pemrosesan hingga mengakibatkan satu warga meninggal tersebut, sebab perlu pendalaman lebih lanjut mengenai hal itu.

""Umbi jenis ini menurut Masduki memang mengandung sianida yang cukup tinggi, namun dengan proses pengolahan yang tepat, kandungan sianidanya bisa dinetralkan dan aman untuk dikonsumsi.

"Karena kandungan sianida di dalam umbi, itu cukup tinggi,"jelasnya.

Mengandung Sianida, Inilah Penyebab Umbi Gadung Mematikan.

Meninggalnya Bejo (78) warga desa Sidem kecamatan Gondang pada Kamis (10/06) siang tadi usai memakan umbi gadung, menyita perhatian masyarakat.

Mengingat selama ini umbi jenis gadung merupakan salah satu makanan lokal yang telah dikenal karena rasanya yang enak.

Inspektur Pangan Kabupaten Tulungagung, Masduki mengatakan, umbi gadung merupakan salah satu produk unggulan dari kabupaten Tulungagung.

Umbi jenis ini mengandung sianida yang cukup tinggi, namun dengan proses pengolahan yang tepat, kandungan sianidanya bisa dinetralkan dan aman untuk dikonsumsi.

"Karena kandungan sianida di dalam umbi, itu cukup tinggi,"jelasnya.

Pihaknya menyebut, umbi gadung yang baru dipetik dan langsung dimasak lalu dikonsumsi masih mengandung sianida yang tinggi.

"Kalau baru dipetik terus langsug dikupas dan dimasak,itu jelas sianidanya masih sangat tinggi,"ucapnya.

Menurut Masduki, secara tradisional masyarakat telah menerapkan cara mengurangi kandungan sianida di dalam gadung.

Yaitu dengan merendamnya di dalam tumpukan abu atau arang selama 2 hari.

"Ini kan ilmu turun temurun, saya rasa masyarakat yang biasa mengolah sudah tau caranya," terang Masduki.

Dengan proses penetralan seperti itu, kandungan sianida di dalamnya bisa diminimalkan.

Masih menurut Masduki, usai dibenamkan dalam tumpukan abu atau arang tersebut, biasanya umbi ini diiris tipis kemudian di jemur lalu diproses untuk pemasakan. (bro)

Editor :