klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Hadiri Mukerda MUI Jatim di Grahadi, Khofifah Soroti Pentingnya Sanad Keilmuan di Ruang Digital

avatar Much Taufiqurachman Wahyudi
  • URL berhasil dicopy
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menghadiri langsung Pengukuhan Pengurus MUI Jatim Masa Khidmat 2025–2030.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menghadiri langsung Pengukuhan Pengurus MUI Jatim Masa Khidmat 2025–2030.

KLIKJATIM.Com | Surabaya – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengajak Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur untuk memperkuat sinergi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menghadapi berbagai tantangan sosial yang berkembang di era digital. Menurutnya, kolaborasi yang kuat antara ulama dan umara menjadi kunci penting dalam mencegah meningkatnya kerentanan sosial sekaligus memperkuat dakwah digital yang moderat, mencerahkan, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Ajakan tersebut disampaikan Gubernur Khofifah saat menghadiri Pengukuhan Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur Masa Khidmat 2025–2030 sekaligus Pembukaan Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda) MUI Provinsi Jawa Timur Tahun 2026 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Minggu (12/7/2026).

Pada kesempatan tersebut, Prof. Dr. KH. Abdul Halim Soebahar resmi dikukuhkan sebagai Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur menggantikan KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah.

Dalam sambutannya, Khofifah menyampaikan apresiasi tinggi kepada kepengurusan sebelumnya atas dedikasi dalam menjaga kehidupan keagamaan yang harmonis, sekaligus mengucapkan selamat kepada kepengurusan baru yang diharapkan mampu memperkuat peran MUI sebagai mitra strategis pemerintah dan pelayan umat (khadimul ummah wa shadiqul hukumah).

"Kami meyakini, di bawah kepemimpinan yang baru, MUI Jatim akan terus menjadi pilar penyejuk, pembimbing, sekaligus benteng moral bagi masyarakat Jawa Timur yang berkarakter, religius, moderat, dan majemuk," ujar Khofifah, Selasa (14/7/2026).

Khofifah menilai tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini semakin kompleks. Selain persoalan penyebaran hoaks dan disinformasi, masyarakat juga dihadapkan pada maraknya judi online (judol), kerentanan moral, penyalahgunaan media sosial, hingga dampak disrupsi teknologi digital dan mitigasi atas perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).

Berbagai persoalan tersebut tidak lagi hanya menyasar kalangan dewasa, tetapi juga semakin banyak memengaruhi anak-anak dan generasi muda melalui ruang digital.

"Kerentanan sosial banyak terjadi di masyarakat kita, tidak hanya menyasar orang dewasa dan berumur, tetapi juga anak-anak kita. Banyak di antara mereka terpapar hal-hal destruktif dari media sosial," ungkap perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan MUI Jawa Timur ini.

Lebih lanjut, Khofifah menyoroti perubahan pola masyarakat dalam memperoleh referensi keagamaan. Berdasarkan data, lebih dari 60 persen masyarakat kini mengakses literatur keagamaan melalui media digital. Oleh karena itu, ruang digital harus diisi dengan konten dakwah yang kredibel, moderat, dan memiliki sanad keilmuan yang jelas.

"Tingginya persentase tersebut harus benar-benar dimanfaatkan untuk syiar atau dakwah kita agar apa yang dijadikan referensi oleh masyarakat kita sanadnya benar-benar bersambung dan terhubung. Platform digital harus menjadi ruang strategis bagi MUI untuk mendiseminasikan berbagai pemikiran yang mencerahkan, menyejahterakan kehidupan masyarakat, sekaligus memberikan kontribusi terhadap kesehatan mental masyarakat," urainya.

Gubernur Khofifah pun mendorong MUI Jatim untuk memperkuat dakwah digital dengan melibatkan para dai muda yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan media sosial. Langkah ini dinilai efektif untuk menggeser ruang dakwah konvensional ke platform digital guna menyasar generasi muda dan remaja secara lebih luas.

Sementara itu, Ketua MUI Jatim yang baru dikukuhkan, Prof. Dr. KH. Abd. Halim Soebahar, menyampaikan bahwa dalam 5 tahun ke depan langkah awal yang diambil adalah menyiapkan wawasan pendalaman terkait MUI bagi seluruh pengurus. Kepengurusan MUI Jatim saat ini didukung oleh 23 badan, komisi, dan lembaga yang diisi oleh tenaga profesional di bidangnya untuk membangun sinergi horizontal maupun vertikal.

Terkait tantangan digital, Prof. Halim menegaskan bahwa MUI Jatim telah menyiapkan langkah antisipatif dan solutif melalui platform digital demi menekan maraknya fenomena penyakit sosial akibat dampak negatif media sosial.

"MUI sudah menyiapkan itu sebenarnya. Jadi tempo hari kira-kira 2 minggu yang lalu kita sudah lakukan audiensi dan itu banyak sekali masukan-masukan bahwa di masyarakat kita sudah banyak terjadi patologi sosial di masyarakat. Sinergi itu akan terus kita lakukan antara MUI dan kelompok-kelompok strategis baik itu jajaran pemerintahan secara horizontal maupun secara vertikal," pungkas Prof. Abd. Halim Soebahar.

Editor :