KLIKJATIM.Com | Gresik — Sambil mengeluarkan smartphone miliknya, Aiptu Bambang Suratno terlihat sumringah dan semangat begitu sampai di asrama Polisi Gresik Kota usai melaksanakan piket PAM penjagaan larangan mudik di Mapolsek Sidayu. Dengan teliti, pria 56 tahun itu langsung menggerakkan jarinya untuk mencari nomor kontak bernama Mamak Tua. Yaitu, nama kesayangan untuk sang Ibu.
[irp]
“Halo mamak, bagaimana kabar? Ini ada sedikit rejeqi THR dari komandan, aku kirim ya,” katanya, Sabtu (8/5/2021).
Percakapan pun berlanjut haru. Di depan layar handphone, dia melambaikan tangan kepada ibu tercinta.
Keduanya pun saling berbalas doa dan harapan sembari melepas rindu untuk sang ibu yang berada di Desa Langgea, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. Di depan layar kamera, senyumnya terus merekah sembari melambaikan tangan.
“Jangan lupa jaga kondisi kesehatan Mak, doakan anakmu di tanah rantau ya,” tandas dia.
Selanjutnya, Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polsek Sidayu tersebut juga menelepon anak dan saudara yang berada jauh di seberang pulau. Dia pun memastikan bahwa semua keluarganya sehat.
“Setelah mendengar kabar semuanya baik, saya baru lega. Bisa kembali bertugas dengan tenang,” ucap anak pertama dari tiga bersaudara ini.
Maklum, selama bertugas di Gresik sejak tahun 1996 tidak pernah menikmati momen hari raya Idul Fitri di kampung halaman. “Ya banyak pertimbangannya. Untungnya keluarga besar paham, bahwa sebagai anggota polisi wajib untuk melayani masyarakat,” tutur bapak tiga anak tersebut.
Termasuk larangan mudik lebaran 2021 dari pemerintah juga tak membuatnya gundah gulana. Karena alumni Bintara Polda Sulsera tahun 1986 itu sudah terbiasa tidak mudik selama 25 tahun terakhir.
“Banyak cara melepas rindu, apalagi teknologi sekarang sangat membantu untuk menyambung silaturahmi,” bebernya.
Bambang menceritakan, zaman dulu kondisi kampung halamannya sangat jauh dari kata modern. Akses jalan dari pusat kota menuju kampungnya saja membutuhkan waktu hingga tiga jam lebih.
“Belum ada handphone, untuk memberi kabar saja harus berkirim surat. Jika beruntung, bisa dengar suara Mamak lewat sambungan telepon dari wartel (warung telepon),” ungkapnya.
Perkembangan teknologi saat ini membuatnya lebih mudah untuk bertatap muka secara daring. Meskipun demikian, bukan berarti polisi senior tersebut tidak pernah mengunjungi lagi kampungnya.
“Bisa dihitung jari, setidaknya selama tugas di Gresik baru empat kali pulang kampung. Tapi tentu bukan saat lebaran,” terang Bambang.
Sebab sebagai pelayan masyarakat libur lebaran merupakan momen jarang didapat anggota. Bahkan, untuk polisi asli Gresik sekalipun jarang bisa libur saat lebaran.
“Karena memang harus tetap siap siaga. Untuk berjaga dan mengamankan situasi,” jelasnya.
Khususnya bagi anggota tingkat polisi sektor (Polsek). “Rata-rata jumlah anggota hanya 16-20 personil. Satu saja yang izin, pasti bingung untuk menyusun kembali jadwal piket,” ujarnya.
Untuk pulang kampung, dia mengaku harus mempersiapkan keberangkatan dua tahun sebelumnya. “Pertama ya tentu harus izin dari pimpinan. Lalu, menyiapkan dana yang tidak sedikit,” tambah Bambang.
Itupun hanya bisa meluangkan waktu selama dua minggu saja. Lumayan untuk melepas rindu kepada keluarga besarnya.
Meski demikian, tapi Bambang mengaku bersyukur bisa menjadi bagian dari warga Gresik. “Belajar banyak dari orang-orang sini. Etos kerjanya, keramahannya dan guyub rukun,”ucapnya.
Dia pun optimis warga Gresik bisa mematuhi larangan mudik tahun ini. Baik yang akan datang dari luar kota maupun luar negeri. “Agar pandemi ini tidak berlarut-larut. Bisa kembali normal dan menikmati lebaran seperti sediakala,” harapnya.
Pengabdian Bambang di kepolisian setidaknya tinggal dua tahun lagi. Segala pengalaman dari Kota Pudak tentu menjadi modal berharga. “Ingin menjadi petani atau petambak di kampung, mudah-mudahan berhasil. Karena dua tahun lagi pensiun, rencana balik kampung selamanya, juga untuk merawat orang tua,” pungkas dia. (nul)
Editor : Redaksi