KLIKJATIM.Com | Surabaya - Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyebut pertumbuhan ekonomi Jatim sejak tahun 2015 hingga 2019 tetap tumbuh dengan kualitas pertumbuhan yang semakin baik dan berada di atas capaian nasional.
[irp]
Namun, kata dia, dengan mewabahnya pandemi Covid-19, pertumbuhan ekonomi Jatim di tahun 2020 mengalami kontraksi sebesar minus 2,39 persen dan berada di bawah capaian nasional yang terkontraksi sebesar minus 2,07 persen.
Kendati demikian, Khofifah mengatakan bahwa kinerja perekonomian Jatim masih tergolong baik. Buktinya, posisi Jatim masih sebagai penyumbang perekonomian terbesar kedua di Pulau Jawa dengan 24,80 persen setelah DKI Jakarta.
"Serta mampu menyumbang perekonomian nasional sebesar 14,57 persen, terbesar kedua setelah DKI Jakarta,” kata Khofifah saat Musrenbang RKPD Tahun 2022 di Hotel Shangri-La Surabaya, Kamis (15/4/2021).
Meski di tahun 2020 perekonomian nasional mengalami resesi, lanjut Khofifah, kondisi ini tidak menyusutkan iklim investasi yang berkembang di Jatim. Hal ini terbukti dengan capaian peningkatan kinerja PMDN 2020 dengan nilai 57,7 triliun serta investasi PMA sebesar 22,6 triliun.
"Kinerja investasi Provinsi Jawa Timur ini merupakan investasi yang tertinggi sejak tahun 2016 dan tertinggi PMDN secara nasional. Hal ini sekaligus mengindikasikan bahwa perekonomian Jawa Timur telah mulai Bangkit," jelasnya.
Selain itu, perkembangan indeks theil di Jatim pada tahun 2015-2019 juga cenderung meningkat yaitu dari 0,3046 menjadi 0,3182. Namun, berdasarkan perhitungan BPS Provinsi Jatim, capaian indeks theil 2020 sebesar 0,3077, mengalami penurunan 0,0102 dibanding tahun 2019.
"Data ini mengindikasikan bahwa tingkat ketimpangan pendapatan regional yang ada di Jawa Timur semakin berkurang bahkan terkategori relatif rendah. Perekonomian regional yang tercermin dari indikator pendapatan perkapita dan perkembangan kependudukan dalam fenomena ini terindikasi semakin merata pada Kabupaten/Kota di Jawa Timur," kata Khofifah.
Sedangkan di tingkat kemiskinan, pada tahun 2020 persentase penduduk miskin Jatim mencapai 11,46 persen dengan jumlah penduduk miskin sekitar 4,58 juta jiwa. Hal ini lantaran pandemi Covid-19 yang berdampak pada menurunnya tingkat pengeluaran perkapita masyarakat.
"Namun dengan adanya bantuan sosial yang diberikan oleh Pemerintah mampu mencegah tingkat kemiskinan di Jawa Timur menjadi lebih dalam," katanya.
Sementara itu, tingkat ketimpangan pendapatan di Jatim yang diukur dengan Gini Ratio pada tahun 2020 tidak mengalami perubahan dibanding dengan tahun 2019 yakni sebesar 0,364 . Pandemi Covid-19 yang mewabah tidak terlalu berpengaruh dikarenakan semua lapis masyarakat di Jatim terkena dampak Covid-19. (bro)
Editor : Redaksi