klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Berkah Harga Lombok Menohok, Petani Cabai di Mojokerto Borong Mobil dan Motor

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Petani cabai Desa Pucuk Kecamatan Dawarblandong Kabupaten Mojokerto menunjukkan mobil Avanza hasil pembelian dari panen lombok. (istimewa)
Petani cabai Desa Pucuk Kecamatan Dawarblandong Kabupaten Mojokerto menunjukkan mobil Avanza hasil pembelian dari panen lombok. (istimewa)

KLIKJATIM.Com | Mojokerto - Fenomena aksi membeli mobil ramai-ramai tidak hanya terjadi di Tuban karena warganya mendapat ganti rugi trabasan tanah yang nilainya miliaran. Di Mojokerto para petani cabai atau lombok juga melakukan hal serupa, membeli mobil dan motor ramai-ramai. Mereka bisa melakukan karena mendapatkan berkah kenaikan harga lombok melebihi harga daging perkilonya.

[irp]

Berkah panen lombok dialami para petani di Desa Pucuk, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto.  Dari hasil menjual cabai para petani ramai-ramai mampu memborong motor dan mobil. Kepala Desa Pucuk, Nanang Sudarmawan mengatakan, selain membeli motor dan mobil, ada juga yang membangun rumah dari hasil panen cabai rawit.

"Kalau jumlah kendaraan yang dibeli itu setahu saya sampai saat ini ada puluhan sekitar 30-50 motor. Memang paling banyak motor Scoopy, ada juga motor PCX dan juga dua mobil," ujar Nanang.

Nanang menjelaskan, para petani cabai ramai-ramai membeli kendaraan baru secara bertahap sejak awal Maret 2021. "Alhamdullilah tahun 2021 ini masyarakat Desa Pucuk panen cabai banyak jadi hampir setiap hari beli sepeda motor," kata Kades Pucuk.

Dikatakan, petani cabai sebagianbesar yang memborong motor berada di Dusun Pucuk yang wilayahnya lebih luas dan mayoritas penduduknya adalah petani cabai. Di Desa Pucuk terdapat lima dusun yaitu Dusun Wotgaru, Dusun Pucuk paling besar, Dusun Brejel Lor, Dusun Brejel Kidul, dan Dusun Kwarigan.

Dari penduduk Desa Pucuk yang berjumlah 1.100 KK (Kepala Keluarga), sekitar 95 persen bekerja sebagai petani yang rata-rata mempunyai lahan cabai. Mereka menanam cabai di lahan persawahan priabadi dan sebagian manfaatkan lahan tanaman kayu putih milik Perhutani.  

"Paling banyak ya di Dusun Pucuk itu petani cabai yang beli kendaraan, ada yang merenovasi atau membangun rumahnya dari hasil panen cabai," jelasnya.

DItambahkan, harga cabai dalam masa panen di Dawarblandong tahun 2021 ini memang relatif bagus dan bertahan lama hampir 1,5 bulan. Harga cabai rawit di tingkat petani dari Rp 50.000 saat awal panen dan pada Februari terus merangkak naik hingga puncaknya mencapai Rp 90.000 hingga Rp 95.000 per kilogram. Apalagi, saat itu di luar daerah minim ketersediaan cabai sehingga petani di Dawarblandong beruntung mempunyai banyak pasokan.

"Sekali panen memperoleh 2 sampai 3 kwintal, itu setiap seminggu sekali kalau dikalikan sekitar Rp 24 juta dan bisa sampai 10-12 kali panen," bebernya.

Menurut Nanang, pihaknya gembira petani warganya mendapat rezeki dari hasil pertanian sehingga dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan. "Pemdes sangat senang dengan hasil pertanian masyarakat di Desa Pucuk. Jadi petani bisa makmur," kata Nanang.  

Salah satu petani cabai setempat, Listyono (56) mengaku sebagian hasil panen digunakan membeli mobil bekas untuk anaknya. Dia membeli mobil Avanza warna putih berharga Rp 145 juta sekitar satu bulan lalu. Kemudian, sebagian hasil penjualan panen cabai ditabung untuk persiapan menyambut lebaran Idul Fitri 2021. "Saya tidak menyangka bisa membeli mobil dari hasil panen cabai," cetusnya. Listyono mengatakan sudah menjadi petani selama 18 tahun di Dawarblandong.

Harga cabai rawit tahun 2021 ini paling mahal dan bertahan lama. Sebelumnya, harga cabai saat panen raya pada 2019-2020 terpuruk mencapai Rp 4.000 sampai Rp.5.000 per kilogram. "Hasil panen cabai dalam satu bulan ini sekitar 4,7 kuintal," pungkasnya. (hen/kps)

Editor :