KLIKJATIM.Com | Surabaya - Tim Penggerak PKK Provinsi Jatim dan BKKBN Jatim menyediakan program sekolah bagi orang tua yang memiliki balita. Hal itu sebagai upaya menekan angka stunting di Jatim.
[irp]
Ketua TP PKK Jatim Arumi Elestianto Dardak mengatakan program tersebut memberikan pendidikan bagi orang tua agar mampu mengasuh anak mereka dengan benar. "Sebagian besar balita terkena stunting disebabkan minimnya pengetahuan ibu dan ayah dalam merawat balita," kata Arumi.
Ia menegaskan, TP PKK Jatim siap menggerakkan seluruh kader di tingkat kabupaten/kota. Utamanya untuk ikut mensosialisasikan program sekolah bagi orang tua yang memiliki balita. "Ini tanggung jawab baru dan pasti kita gerakkan kader-kader PKK sekaligus memberikan sosialisasi terkait program tersebut," tegasnya.
Menurut Arumi, kolaborasi antara TP PKK dan BKKBN Jatim sudah terjalin cukup lama. Salah satunya menjalankan program kampung Keluarga Berencana (KB) dan kontrasepsi. “Sebelumnya, PKK dan BKKBN Jatim memiliki hubungan yang sangat baik di segala jenjang,” tuturnya.
Dalam pencegahan stunting di Jatim, peran PKK yakni meningkatkan kesadaran masyarakat dengan menggerakkan peran kader PKK. Upaya itu agar memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pengetahuan dan kesadaran keluarga akan pentingnya kesehatan ibu dan anak (KIA).
“Selain itu, peningkatan upaya advokasi dan perencanaan yang mendukung pemberdayaan masyarakat serta pemuktahiran data dan informasi,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala BKKBN Jatim Sukaryo Teguh Santoso menuturkan, rencana program sekolah bagi orang tua yang memiliki balita sudah ditetapkan sebagai pilot project di Kabupaten Pasuruan. “Namun karena pandemi, masih sedikit agak terhambat dan ini akan ditindaklanjuti oleh TP PKK,” ucap Teguh.
Menurutnya, inti dari program tersebut sebagai pembelajaran non formal bagi keluarga-keluarga yang memiliki balita. Utamanya, untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi, keterampilan serta pengetahuan dalam mengasuh balita.
“Jadi nanti, pembekalan sekolah mengasuh balita tidak hanya diberikan kepada kaum perempuan saja, tetapi laki-laki juga dibekali pada sesi-sesi tertentu dengan cara yang lebih cultural,” ujarnya.
Skema pembelajaran bagi orang tua dalam mengasuh balita diberikan secara tidak formal. Akan tetapi, lanjut Teguh, sifatnya non formal. “Nanti ada pembelajaran tatap muka, ada pula pembelajaran daring karena masih pandemi Covid-19,” ungkapnya.
Teguh memaparkan, secara prosentase angka stunting di Jatim saat ini mencapai 26,8 persen. “Semoga angka stunting menurun karena kalau melihat ritmenya hingga 2024, mungkin bisa turun sampai 14 persen,” tandasnya. (rtn)
Editor : Redaksi