klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Nasib Pedagang Keliling di Bojonegoro, Ditolak Sekolah Lantaran Dagangan Dicap Tak Higinis

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Sejumlah pedagang keliling yang tergabung dalam Komunitas Pedagang Keliling (Kopling) Bojonegoro menggelar audiensi di kantor DPRD Bojonegoro. (M Nur Afifullah/klikjatim.com)
Sejumlah pedagang keliling yang tergabung dalam Komunitas Pedagang Keliling (Kopling) Bojonegoro menggelar audiensi di kantor DPRD Bojonegoro. (M Nur Afifullah/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Bojonegoro--Pedagang keliling di Kabupaten Bojonegoro mulai resah. Sejumlah sekolah menolak para pedagang keliling itu jualan di sekitar sekolahan. Alasannya, makanan dan minuman yang dijual para pedagang dicap tidak higinis (bersih dan menyehatkan).

Selasa (29/10/2019) siang sebanyak 20 pedagang keliling yang tergabung dalam Komunitas Pedagang Keliling (Kopling) itu mengadu kepada DPRD Bojonegoro. Mereka menggelar audiensi dengan harapan dilindungi dalam bekerja sebagai pedagang keliling.

"Lahan kami berjualan semakin terbatas. Sementara kami juga punya keluarga dan anak yang juga sekolah," kata Tugimin, selaku Koordinator pedagang keliling, di Kantor DPRD Bojonegoro.

Di DPRD, mereka ditemui Ketua DPRD bojonegoro Imam Solikhin, perwakilan dari Dinas Perdagangan, Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro. Para pedagang keliling itu meminta DPRD membantu memberikan penjelasan kepada dinas terkait jika makanan dan minuman yang selama ini dijual higinis.

"Kami belinya di toko, dan dagangan yang kami jual juga sudah ada stempel dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan)," kata Tugimin.

[irp]

Menurut Tugimin, sebenarnya para pedagang sudah pernah mengadu kepada Dinas Pendidikan terkait penolakan sekolah kepada para pedagang. Dinas Pendidikan yang waktu itu dipimpin Hanafi, menjanjikan akan memberikan label dengan sticker 'higinis' yang dikeluarkan Dinas Kesehatan digerobaknya. Sayangnya, hingga saat ini janji itu belum direalisasikan Dinas Pendidikan.

"Saat itu kami dijanjikan dua minggu diberi label higinis setelah kami audiensi. Tapi, sampai delapan bulan sekarang tidak ada realisasi," lanjut dia.

Dengan mengadu ke DPRD, para pedagang berharap mendapatkan solusi setelah dimediasi dengan pemerintah yang bertanggungjawab kepada sekolah-sekolah. Tugimin dan kawan-kawannya berharap, sekolah di Bojonegoro memperbolehkan pedagang berjualan di sekitar sekolah.

"Kami berani di tes kesehatan jualan kami. Selama berjualan kami juga bertanggungjawab menjaga kebersihan," ungkap Tugimin.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Perdagangan Bojonegoro, Sukaemi mengatakan, akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan terkait pemberian label higinis pada jualan pedagang.

"Kami akan berkoordinasi dulu dengan dinas terkait. Ya, harapannya pedagang bisa jualan lagi," katanya.

[irp]

Hal senada juga dikatakan Nadzar, perwakilan Dinas Pendidikan Bojonegoro. Namun, Nadzar tetap meminta agar para pedagang menjaga kebersihan makanan yang dijual. Sebab, konsumennya kebanyakan masih siswa sekolah.

"Mereka masih siswa para penerus bangsa. Jadi, perlu mendapatkan perlindungan termasuk dalam hal makanan," kata dia.

Ketua DPRD Bojonegoro Imam Solkhin berharap, antara pedagang dan pemerintah bisa menemukan solusi. Dia berjanji akan mengawal aduan para pedagang ini hingga ditemuka solusi yang saling menguntungkan.

"Harapannya, kami di DPRD bisa memfasilitasi teman-teman pedagang sampai ada solusi yang terbaik," kata Imam. (af/mkr)

Editor :