klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Berkat Sabhengan dan Penthor, Penemuan Pelajar SDIT Bawean Moncer di Kompetisi Internasional

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Para siswa SDIT Al-Huda Bawean yang berhasil sabet juara di ajang kompetisi Internasional. (Dok. Foto diambil sebelum pandemi covid/ist)
Para siswa SDIT Al-Huda Bawean yang berhasil sabet juara di ajang kompetisi Internasional. (Dok. Foto diambil sebelum pandemi covid/ist)

KLIKJATIM.Com | Gresik ー Anak-anak dari Pulau Bawean, Kabupaten Gresik ini sangat membanggakan untuk dunia pendidikan. Itu setelah para pelajar dari SDIT Al-Huda tersebut berhasil nyabet prestasi dengan membawa pulang medali perak, dalam ajang Asean Innovative Science Environmental And Entrepreneur Fair (AISEEF) tahun 2021 pada Selasa (23/2/2021) kemarin.

[irp]

Penobatan juara runner-up ini setelah mereka sukses menemukan sabhengan yang dapat mengusir hewan pengganggu atau hama di sawah tanpa menggunakan racun pestisida, serta alat penthor untuk menjebak kepiting tanpa merusaak biota laut. Dengan temuannya ini, mereka dapat menyingkirkan para peserta lainnya dari berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam dan Iran. Para peneliti cilik tersebut berjumlah 10 orang yang terbagi menjadi dua tim.

Kepala sekolah SDIT Al-Huda, Rissky Wahyu Saputra menjelaskan, penelitian yang dilakukan anak didiknya tersebut berawal dari keresahan masyarakat untuk mengusir hama dan hewan pengganggu lainnya di sawah dengan menggunakan racun bahan kimia. Dan juga inovasi menangkap kepiting tanpa menghilangkan generasi kepiting seterusnya, serta tidak mengganggu biota laut lainnya.

“Banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa dampak dari penggunaan racun atau bahan kimia pengusir hama dan hewan pengganggu dapat merusak lingkungan, sehingga mnyebabkan ekosistem sekitar mati karena terkena dampak tersebut, serta pertumbuham padi pun juga tercampur dengan bahan kimia tersebut,” katanya, Sabtu (27/2/2021).

Dari situlah tim Sabhengan yang beranggotakan lima peneliti cilik di antaranya Nadyah Syena BJ sebagai ketua tim, Nurhaliza, Qotrun Nada Salsabila, Ahmad Barikie Ali dan Daniel Karim mulai melakukan penelitian untuk memecahkan problem masyarakat. Setelah tiga bulan bekerja keras melakukan riset, mereka berhasil memanfaatkan mainan tradisional yang bernama sabhengan untuk mengusir hewan dan hama dengan menggunakan suara infrasonik yang dikeluarkan dari sabhengan. Sehingga alat ini lebih ramah lingkungan karena tidak mengganggu ekosistem sekitarnya. 

“Selain tidak merusak lingkungan, sabhengan ini juga bahan-bahannya mudah didapatkan dan juga banyak yang menyenangi permainan tradisional ini,” papar Rissky.

Untuk tim ke dua atau tim penthor juga beranggotakan lima pelajar. Mereka terdiri dari Afkarina Purnama sebagai ketua kelompok, Raka Rayyan Malik, Vina Hikmatun Nazila, Rahib Asyhar dan Muhammad Nashiruddin.

“Mayoritas penduduk di Pulau Bawean bekerja sebagai nelayan, dan banyak nelayan di Bawean maupun di luar Bawean yang masih belum menyadari, bahwasanya penggunaan cantrang sangatlah berdampaak dengan biota laut lainnya. Sehingga mengganggu regenerasi biota laut lainnya dikarenakan tertangkap secara acak oleh alat cantrang ini,” terangnya.

Setelah satu bulan bekerja keras melakukan riset, mereka berhasil sedikit memodifikasi sebuah alat yang bernama penthor. Penthor ini salah satu alat jebakan kepiting yang tidak merusak biota laut lainnya, karena yang ditangkap oleh alat penthor adalah jenis kepiting atau rajungan yang sudah besar. 

“Selain diklaim tidak merusak biota laut lainnya, penthor ini juga bahannya mudah didapatkan dan juga mudah dibuat, sehingga lebih mempermudah nelayan untuk mendapatkan jenis rajungan yang besar,” tambahnya. 

Semua temuan ini telah dilakukan beberapa kali pengujian dan hasilnya cukup memuaskan. “Kami sadar kalau temuan ini masih jauh dari sempurna, tetapi kami senang sudah ikut berkontribusi dalam mengatasi problematika lingkungan, sehingga dapat menjaga keramahan lingkungan dengan pengembangan inovasi dan pemanfaatan permainan” kata Afkarina dengan didampingi Nurhaliza, yang juga diamini oleh anggota timnya. 

Perlu diketahui, AISEEF merupakan ajang kompetisi peneliti muda yang diselenggarakan oleh Indonesia Young Scientist Asosiation (IYSA). Dalam kompetisi tahun ini diikuti sebanyak 500 peserta dari dalam negeri maupun luar negeri. 

Untuk dapat meraih medali perak, dua tim dari SDIT Al-Huda Bawean harus berjuang melalui beberapa tahapan. Mulai dari pengiriman abstrak, hasil riset dan paling menegangkan saat presentasi di depan juri. Selain berhasil mendapatkan medali perak di kejuaraan internasional, tim Sabhengan juga mendapatkan Special Award dari IYSA berupa tiket gratis untuk mengikuti lomba internasional yaitu, IICYMSI 2021 seharga 300 USD.

“Berkat kerja keras seluruh tim guru SDIT Al-Huda Bawean dan tim peneliti cilik, keberhasilan ini patut disyukuri sekaligus dapat menjadi jalan pembuka bagi sekolah lainnya untuk berprestasi,” tambah Kepala Sekolah Rissky. (nul)

Editor :