KLIKJATIM.Com | Gresik — Kehidupan Suparjo (50), warga Desa Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik sungguh memprihatinkan. Hari-harinya sebagai orang desa jauh dari keramaian penduduk. Hidupnya pun terasa sunyi.
[irp]
Begitulah yang dirasakan oleh mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tersebut. Sejak kepulangannya dari perantauan di Negeri Jiran (Malaysia), kini kehidupannya berputar 180 derajat.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Ketika masih tinggal di negara tetangga, sang istri pun menuntut cerai. Kini rumah tangganya telah berakhir dan satu-satunya anak perempuannya juga ikut dengan ibunya.
Selepas menjalani tahanan di Malaysia, Suparjo akhirnya pulang kampung. "Sebelumnya sejak tahun 2015 merantau ke Malaysia. Saya kerja banting tulang agar bisa memberikan biaya anak, sampai harus pindah-pindah kerja. Tapi karena dirasa belum cukup untuk kirim ke anak, istri saya kirim pesan lewat HP (Handphone) untuk minta cerai, dan saya izinkan," terang Suparjo, Jumat (15/1/2021).
Kendati sudah bercerai, tapi dia selama di Malaysia tetap mengirimkan uang untuk anaknya. Meski nilainya tidaklah besar.
Pada tahun 2017 silam, ia akhirnya pulang ke kampung. Ketika itu, Suparjo yang sudah tidak mempunyai tempat tinggal karena rumahnya dijual oleh ahli waris ini terpaksa numpang di tempat teman karibnya dengan bekal uang Rp 3,5 juta.
Untuk bagiannya dari hasil penjualan rumah peninggalan orang tua digunakan bayar utang, dan mencukupi kebutuhan sehari-harinya.
“Kalau tinggal di Goa (bekas galian C) ini sekitar hampir dua tahunan, setelah tinggal bersama teman saya. Jadi terpaksa hidup di Goa," imbuhnya.
Kini hidupnya sebatang kara di Goa bekas galian C. Saat malam tiba pun tidak ada lampu penerangan. Sendirian. Tanpa listrik, lilin maupun api unggun.
Penghasilan sebagai kuli batu kapur tak mampu membuatnya bangkit. Baginya, cukup untuk bisa membeli makan dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya saja sudah untung.
"Untuk makan sehari-hari beli di warung," tutur pekerja kuli pedel kapur kotak berukuran 30x30 centimeter atau jenis umpak di daerah setempat itu.
Suparjo menambahkan, dirinya juga terpaksa harus pindah ke Goa lain untuk dijadikan tempat tinggal. Karena Goa yang sebelumnya dijadikan 'rumah' akan dipakai untuk jalan oleh pihak PT Polowijo.
“Sebagai gantinya ditempatkan di bekas galian C lainnya, yang dijadikan Goa sendiri sama saya. Hanya berukuran 1 meter lebih, kalau hujan tetap basah kaki, tapi untuk kepala dan tubuh alhamdulillah tidak (kehujanan),” urainya.
Disinggung soal bantuan, selama ini Suparjo mengaku tidak pernah mendapat kucuran bantuan dari pemerintah. Termasuk bantuan masyarakat terdampak Covid-19 pun tak mendapatkannya.
“Tidak dapat bantuan apa-apa dari pemerintah kabupaten maupun Pemerintah Desa (Pemdes). Padahal setiap ada pemilihan umum juga mempunyai hak pilih,” keluhnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Gresik, Sentot Supriyohadi saat dikonfirmasi tak mengetahui terkait informasi salah satu warga di Desa Sekapuk yang ternyata tidak punya tempat tinggal. Namun dengan kondisi demikian, dia pun menyarankan melalui pemerintahan di wilayah setempat untuk segera mendaftarkannya (Suparjo) sebagai warga tidak mampu di desa setempat.
“Mohon warga tersebut dimasukkan data warga tidak mampu di desanya,” kata Sentot dengan singkat.
Sementara itu Kades Sekapuk,Abdul Halim dalam klarifikasinya di media sosial membantah ada warganya yang tinggal di gua.
Dari penelusurannya, Suparjo ini memiliki lokasi garapan yang masih produktif dan punya hak merekrut karyawan sebanyak 5 orang. Suparjo juga punya mengoperasikan mesin produksi bata putih. Bahkan, Suparjo juga memiliki sepeda motor baru dan HP Android.
“Ini kan aneh! Lha wong bisa beli sepeda baru dan HPnya android, masak ndak bisa sewa rumah yang 100 ribu perbulan atau ada juga yang Rp 500 ribu pertahun,” ungkap Kades Sekapuk.
Abdul Halim menambahkan, kalau memang Suparjo tidak mampu sewa rumah, maka pihak Pemdes Sekapuk siap membiayai. Suparjo pun juga bisa tinggal di balai desa, karena masih ada ruang kosong yang bisa ditempati daripada hidup di goa sendirian.
“Saat saya menghubungi Suparjo, sebagai Kades saya langsung menawarkan Suparjo untuk tinggal di balai desa atau sewa rumah dan biayanya nanti ditanggung Pemdes. Namun jawaban Suparjo katanya gampang diurus nanti saja Pak Kades,” ungkap Abdul Halim.
Terkait rumah dan tanah Suparjo yang berada di Sekapuk, ternyata di jual sendiri oleh Suparjo kepada Mulyadi warga Paciran, Kabupaten Lamongan tahun 2014. Saat itu Kadesnya Suwandi. “Waktu itu saya belum menjabat Kades,” pungkas Abdul Halim. (nul)
Editor : Redaksi