klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Manusia Pasir dari Sumenep, Tradisi Tidur di Atas Butiran Halus yang Bertahan Ratusan Tahun

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
KEPERCAYAAN. Seorang nenek di Desa Legung Timur, Sumenep, Madura, tengah beristirahat di atas hamparan pasir halus di dalam rumahnya, tradisi turun-temurun yang masih lestari hingga kini. (M.Hendra.E/KLILJATIM.Com) 
KEPERCAYAAN. Seorang nenek di Desa Legung Timur, Sumenep, Madura, tengah beristirahat di atas hamparan pasir halus di dalam rumahnya, tradisi turun-temurun yang masih lestari hingga kini. (M.Hendra.E/KLILJATIM.Com) 

KLIKJATIM.Com | Sumenep – Di ujung timur Pulau Madura, tepatnya di Desa Legung Timur, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, terdapat sebuah kebiasaan unik yang telah diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun. Warga desa ini memiliki tradisi unik, di mana mereka beraktivitas, bersantai, dan bahkan beristirahat atau tidur langsung di atas hamparan pasir halus.

Bagi masyarakat Desa Legung Timur, pasir bukan sekadar benda alam, melainkan bagian integral dari kehidupan dan keyakinan mereka. Hampir di setiap rumah, warga membuat semacam "teras pasir" di halaman, tempat mereka bercengkerama dan menikmati waktu sore. Bahkan, di dalam rumah, hamparan pasir halus dijadikan sebagai pengganti kasur.

"Ada kasur di rumah, tapi kami jarang memakainya. Tidur di atas pasir lebih nyaman. Kalau siang terasa sejuk, kalau malam justru hangat,” tutur Amna, salah seorang warga, Jumat (10/10).

Baca Juga : DPRD Sumenep Desak Pemkab Tuntaskan Masalah Karyawan PT Sumekar
Kepercayaan turun-temurun menyebutkan bahwa pasir memiliki manfaat bagi kesehatan, seperti membantu relaksasi tubuh, memperlancar sirkulasi darah, hingga menjaga suhu tubuh agar tetap stabil. Keyakinan inilah yang membuat tradisi yang menjuluki mereka sebagai ‘manusia pasir’ ini tetap lestari di tengah arus modernisasi.

Pasir yang digunakan dalam tradisi ini bukanlah sembarang pasir. Warga mengambilnya dari dua lokasi khusus, yakni Gunung Pasir di Desa Legung Barat dan Pantai Lombang yang berjarak sekitar tiga kilometer.

Sebelum digunakan, pasir tersebut harus melalui proses pengolahan ketat: diayak dan dibersihkan dari kotoran serta sisa-sisa material laut agar tetap higienis. Pasir di dalam rumah juga rutin diganti untuk menghindari kelembapan atau debu.

Baca Juga : Maskapai Wings Air Kembali Terbangi Sumenep–Surabaya
Jika berkunjung ke Sumenep, desa ini, yang kerap disebut “Kampung Pasir,” menawarkan pemandangan menakjubkan di mana hamparan pasir lembut membentang di setiap halaman rumah. Tradisi sederhana ini menjadi cerminan kuatnya nilai budaya, filosofi hidup masyarakat pesisir Madura, dan kedekatan mereka dengan alam. (yud) 

Editor :