Ketua PWNU Jatim; Perancis Marah kepada Islam Radikal, Bukan Islam Ahlus Sunnah

klikjatim.com

KLIKJATIM.Com | Surabaya—Ketua PWNU Jatim KH Marzuqi Mustamar meminta umat Islam Indonesia berpikir rasional atas munculnya karaikatur Nabi Muhammad di Perancis. Menurut Kiai Marzuqi, Perancis marah kepada Islam radikal seperti ISIS, bukan Islam ramah beraliran ahlus sunnah wal jamaah.

[irp]

Baca juga: Dendam Lama Berujung Tragedi Berdarah, Pria di Sampang Tega Sabet Paman dan Adik Kandung

“Sebagai muslim tentu kita tersinggung, marah, kalau Nabi digambarkan jelek kayak gitu,” kata Kiai Marzuki Mustamar dalam rekaman video berjudul: Kenapa NU tidak Serukan Boikot Produk Prancis.

Tapi kita – kata Kiai Marzuki Mustamar – juga harus evaluasi, mawas diri dan introspeksi. Menurut dia, Prancis itu ramah kepada muslim Ahlussunah Walajamaah (Aswaja), Islam moderat seperti yang dianut warga NU.

“Kepada muslim biasa (bukan aliran keras), yang Ahlusssunah wal-Jamaah, Prancis itu welcome. 2.000 lebih masjid di Prancis aman-aman aja,” kata Kiai Marzuki Mustamar. Di Prancis bahkan terdapat 2.200 masjid. 

Bukan hanya itu. Menurut Kiai Marzuki, ribuan pengungsi dari Syuriah juga diterima oleh Prancis.

“Yang membuat Prancis marah, bukan kepada umat Islam seperti kita, Ahlusunnah Wal-Jamaah. Yang membuat Macron marah karena Islam model ISIS. Teroris itu lho, Islam radikal yang membunuh sejarawan senior. Jadi yang bermasalah itu Islam radikal, bukan Islam umum seperti yang kita anut,” tambahnya.

Kiai Marzuki Mustamar menjelaskan bahwa Al-Quran melarang kita menjelek-jelekkan agama lain. “Aslinya, Al-Quran sendiri itu melarang kita menyakiti orang lain, melarang kita mem-bully, menghina, mengejek, menjelek-jelekkan agama di luar Islam. Yesus diilok-ilokno yo gak oleh (Yesus diolok-olok ya tidak boleh)-. Sang Yang Widi dielek-dielekno yo gak oleh,” kata Kiai Marzuki Mustamar sembari mengatakan bahwa pada zaman Nabi pun dulu juga dilarang menghina berhala Latta, Uzza, dan sebagainya.

Sebab, kata Kiai Marzuki Mustamar, jika kita menjelek-jelekkan simbol agama lain yang mereka anggap suci, khawatir mereka membalas menjelek-jelekkan Nabi kita secara ngawur. “Jadi ini bukan soal NU atau bukan. Tapi mari kita mengikuti ajaran agama Islam,” katanya.

Kiai Mustamar lalu mengutip Al-Quran Surat Al-Anam ayat 108. Yang artinya: Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.”

“Jadi, seperti sekarang ini. Wong namanya non Muslim yo ngarikatur ngawur. Tapi kan ada penyebabnya,” katanya sembari minta umat Islam tidak memancing kebencian.

Baca juga: Kecamatan Kota Belum Terkejar, Perebutan Juara Umum Porkab Bojonegoro Masih Panas

Karena itu Kiai Marzuki Mustamar mengajak mengembangkan Islam yang ramah, damai, berbudaya, berperadaban, berprestasi, dan membanggakan. Sebab,meski umat Islam minoritas di beberapa negara lain, tapi jika berprestasi dan membanggakan, maka Negara yang mereka tempati akan hormat dan ikut bangga.

Bahkan, kata Kiai Marzuki Mustamar, bisa jadi mereka lalu tertarik dan masuk Islam.

Terkait ajakan boikot, Kiai Marzuki Mustamar mengaku tidak setuju. “Kalau benar kita muqothoa’ah tijariah (pemutusan hubungan dagang-Red), maka yang rugi kita bangsa Indonesia, bukan Prancis,” katanya.

Kenapa? Karena dari segi neraca perdagangan kita lebih banyak ekspor, ketimbang impor barang Prancis. Ia menyebut nilai impor Prancis hanya 1,9 miliar dolar, sedang ekspor kita mencapai 2 miliar dolar lebih.

Belum lagi soal tenaga kerja. Misalnya memboikot Carrefour, padahal karyawannya justru orang-orang Islam. “Jangan hanya nuruti emosi,” katanya.

Menurut dia, yang melakukan aksi kekerasan itu kelompok Islam radikal, tapi mereka lalu mengajak-ajak orang NU untuk memboikot. “Kalau NU tak mau boikot dituduh Islam liberal dan sebagainya,” katanya.

Baca juga: Kabupaten Sumenep Pimpin Daerah Berinflasi Terendah di Jawa Timur pada Juni 2026

Kiai Marzuki menegaskan bahwa, ”Kita tidak membela orang kafir.” Tapi kita ingin menunjukkan bahwa Islam itu sangat ramah, membawa kemajuan, berprestasi dan memberi solusi hidup sehingga mereka tertarik kepada Islam.

“Nabi-nabi dahulu sudah biasa dihina-hina. Tapi karena Nabi Muhammad punya kepentingan dakwah, Nabi tetap berdagang dengan mereka,” kata Kiai Marzuki.

Ia mencontohkan seorang Yahudi yang menghina Nabi Muhammad. Tapi Nabi sabar, tidak marah. Lalu si Yahudi itu sakit. Nabi Muhammad justru datang menjenguk dan mengobati. Sembuh. Si Yahudi tertarik pada akhlak Nabi. Ia masuk Islam.

“Ini (kisah Yahudi) ada di Bukhari,” kata Kiai Marzuki Mustamar sembari menunjukkan Kitab Bukhari yang ada di depannya seperti dikutip Bangsa Online. 

Menurut Kiai Marzuki, Nabi Muhammad justru mendekati dan mendakwahi para penghinanya dengan akhlak yang terpuji dan tinggi, bukan dengan kekerasan, sehingga mereka masuk Islam. (hen)

Editor : Redaksi

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru