Imbas Kericuhan, Mahasiswa Papua di Surabaya Cemas dan Tak Berani ke Kampus

klikjatim.com
Pihak kampus mengumpulkan mahasiswa Papua untuk mediasi di ruang Proklamasi Lantai 2 Gedung A Rektorat Unitomo, Surabaya. (Niam Kurniawan/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Surabaya – Peristiwa di Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (16/8/2019) kemarin seakan masih mencekam. Bahkan seorang mahasiswa Papua di Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya, hingga kini masih merasakan ketakutan.

"Saya sangat ketakutan sekali, saya takut untuk ke kampus konsultasi skripsi saya," ujar Emolita Manibuy, salah satu mahasiswa Papua semester akhir saat ditemui klikjatim.com di kampus Jalan Semolowaru, Kecamatan Sukolilo, Senin (20/8/2019).

Baca juga: Sebanyak 63 Saksi Diperiksa, Polisi Masih Dalami Kasus Perusakan Bendera di Surabaya

Menurutnya, rasa ketakutan itu muncul setelah terjadi kericuhan di Kalasan beberapa waktu lalu. Apalagi disampaikan ada 43 orang Papua yang terpaksa dibawa polisi, serta terjadinya pelemparan batu oleh oknum tertentu saat di Asrama.

[irp]

Ia merasa mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Kondisi semua itu membuat nafas dan batinnya seakan tercekik.

Emolita merasa keamanan dan kenyamanan hidup di Jawa Timur (Jatim), khususnya di Surabaya sudah tidak lagi membuatnya tenang. Sampai-sampai dirinya enggan untuk menjalani aktifitas sebagai mahasiswa.

Baca juga: Dua Gubernur dan Kapolda Ditolak Masuk Asrama Mahasiswa Papua

Paska kejadian itu, pihak keluarga di Papua sempat menyuruhnya pulang ke kampung halaman. "Saya sempat ditelefon sama orang di rumah, kalau sampai kerusuhan itu tidak lekas selesai sudah kamu (Emolita) pulang saja," ceritanya.

Dia menambahkan, bahwa perlakuan tidak menyenangkan dari senior juga pernah terjadi beberapa tahun silam. Ketika momen pengenalan mahasiswa baru di Unitomo.

[irp]

Baca juga: Rencana Jatim dan Papua Menjalin Sister Province, DPRD Sambut Baik

Maka, terjadilah bentrok antar mahasiswa. Emolita pun mengaku, dirinya terpaksa memilih pulang ke Papua dan tidak mengikuti perkuliahan hingga beberapa bulan.

"Saya dulu juga pernah pulang, ya gara-gara sama. Saya takut sekali sampai saya disuruh pulang sama orang tua dan saya tidak kuliah sampai beberapa bulan. Untungnya dosennya baik sama saya, sehingga mendapat tugas tambahan dan saya diluluskan," urainya.

Perlu diketahui sebelumnya, Jumat (16/8/2019) lalu sejumlah organisasi masyarakat (ormas) mengepung Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Surabaya, Jawa Timur. Hal ini dipicu setelah adanya informasi dugaan oknum mahasiswa merusak bendera merah putih dan membuangnya ke selokan. (nk/roh)

Editor : Redaksi

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru