Batu Bara Mengganggu, Warga Konsisten Minta GJT Relokasi

klikjatim.com

KLIKJATIM.Com | Gresik - Warga yang berada di depan lokasi PT Gresik Jasa Tama (GJT) kembali was-was. Pasalnya, kurang dari 10 bulan menghirup udara segar, warga kembali menghirup udara kotor bekas batu bara yang mulai beroperasi. Hanya tiga kelurahan yang secara vokal mengaku takut kembali terserang penyakit saluran pernafasan gara-gara aktivitas bongkar muat batu bara di GJT.

[irp]

Baca juga: Apresiasi Loyalitas, 78 Personel Polres Bojonegoro Terima Tanda Kehormatan Negara

Seperti dialami pemilik warung kopi yang berada di pinggir jalan, Muhammad Kholil mengaku, baru beberapa bulan ini merasakan udara segar karena kesepakatan dengan DPRD Gresik bahwa GJT harus angkat kaki ke JIIPE. Kini semuanya berubah, tanpa sosialisasi GJT kembali beroperasi sejak Rabu (12/8/2020).

"Warga harus kembali berjibaku dengan debu batu bara yang berbahaya. Dagangannya penuh debu jika tidak rajin dibersihkan. Seperti ini debunya, sangat jelas ini debu batubara," kata pria yang juga menjabat sebagai ketua RT setempat, Senin (17/8/2020).

Baca juga: Petaka Sopir Mengantuk, Xpander Seruduk Motor, PKL, hingga Warung Sembako di Sumenep

Sejumlah warga memang tengah berkumpul di pos kamling, depan warkop Kholil itu. Tiba-tiba kaget ada satu butir batu bara yang jatuh tepat depan gapura setelah tiga truk hijau melaju dari timur ke barat.

[irp]

Baca juga: Anggaran Sampang Dipangkas, Komisi II DPRD Desak Desa Mandiri dan Berhenti Berpangku Tangan

Bahkan, mereka tidak mau lagi negosiasi win-win solution, karena solusi terbaik adalah relokasi batu bara jauh dari pemukiman warga.

"500 orang lebih dari tiga desa besok datang ke DPRD Gresik mendatangi undangan,ada kesenian pencak macan juga. Warga tiga desa totalitas menolak bongkar muat batubara," pungkasnya. (bro)

Editor : Redaksi

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru