KLIKJATIM.Com | Jombang - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman di Kabupaten Jombang sepanjang 2026. Hingga menjelang akhir September, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jombang mencatat sebanyak 157 kejadian karhutla yang tersebar di 20 kecamatan.
Dari ratusan kejadian tersebut, total luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 148,6 hektare. Lima kecamatan tercatat sebagai wilayah dengan kejadian karhutla paling banyak, yakni Jombang, Mojoagung, Mojowarno, Diwek, dan Ngoro.
Baca juga: Pertahankan Status Zero PMK, Dinas Peternakan Jombang Lakukan Percepatan Vaksinasi
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Jombang, Wiku Birawa Felipe Diaz Quintas, mengatakan tingkat kerawanan karhutla di setiap wilayah berbeda.
“Dari catatan kami, ada lima kecamatan yang menjadi wilayah dengan kejadian karhutla cukup banyak, yaitu Jombang, Mojoagung, Mojowarno, Diwek, dan Ngoro,” kata Wiku, Minggu (27/9/2026).
Tren kejadian karhutla meningkat signifikan sejak memasuki pertengahan tahun. BPBD mencatat hanya ada satu kejadian pada Mei dan dua kejadian pada Juni. Angka tersebut kemudian melonjak menjadi 36 kejadian pada Juli, 52 kejadian pada Agustus, dan 65 kejadian sepanjang September.
Dengan jumlah tersebut, rata-rata luas lahan yang terbakar dalam setiap kejadian diperkirakan sekitar 0,9 hektare. Sebagian besar kebakaran terjadi pada sore hari.
Menurut Wiku, sejumlah faktor diduga menjadi pemicu kebakaran, mulai dari pembakaran lahan hingga aktivitas manusia yang diperparah kondisi cuaca panas.
“Rata-rata luasan lahan yang terbakar dalam satu kejadian sekitar 0,9 hektare. Kebanyakan peristiwa juga terjadi pada sore hari,” ujarnya.
Dari sisi dampak, BPBD mencatat satu warga terdampak dan satu orang meninggal dunia akibat kejadian karhutla selama 2026.
Tingkat risiko karhutla di Jombang tidak merata. Kecamatan Wonosalam menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi lantaran karakter wilayahnya didominasi kawasan hutan dan vegetasi.
Baca juga: Terjebak Kebakaran Hutan, Lansia Pencari Kayu di Ponorogo Meregang Nyawa
Sementara itu, sejumlah wilayah di Kecamatan Bareng, Ngoro, dan Mojowarno berada dalam kategori risiko sedang hingga tinggi. Adapun sebagian wilayah Plandaan, Kabuh, dan Ngusikan memiliki karakter lahan kering atau tegalan dengan tingkat risiko sedang.
Wilayah lainnya masuk dalam kategori risiko rendah hingga sedang.
BPBD Jombang juga menghadapi sejumlah kendala dalam penanganan kebakaran. Salah satunya adalah akses menuju lokasi kejadian. Beberapa titik berada di wilayah terjal dan berbukit, memiliki kondisi jalan yang rusak, serta tidak seluruhnya dapat dijangkau kendaraan pemadam.
Keterbatasan sumber air turut menjadi persoalan, terutama ketika titik kebakaran berada jauh dari sumber air atau hanya memiliki sumber dengan debit terbatas. Kondisi ini berpotensi memperlambat proses pemadaman.
Selain itu, BPBD masih menghadapi keterbatasan personel, peralatan pemadam, alat pelindung diri, hingga gangguan komunikasi di sejumlah lokasi.
Baca juga: MPM Honda Jatim Resmikan Bank Sampah Binaan Kelima di Jombang
Koordinasi lintas sektor serta keterlibatan masyarakat dalam penanganan awal juga dinilai perlu diperkuat.
Wiku mengatakan berbagai persoalan tersebut perlu diidentifikasi dan dicarikan solusi secara bersama agar penanganan karhutla di lapangan berjalan lebih efektif.
“Semua tantangan yang ditemukan di lapangan perlu diidentifikasi dan dicari solusinya bersama, sehingga penanganan karhutla bisa lebih efektif dan optimal,” katanya.
BPBD Jombang mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Warga diminta mengawasi aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama pembakaran di lahan terbuka, agar api tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar.
Editor : Wahyudi