OMC Digelar Empat Kali, Hujan Mulai Turun di Enam Wilayah Jatim

Reporter : Abdul Aziz Qomar

KLIKJATIM.Com | Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Kementerian Kehutanan dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus mengatasi dampak kekeringan yang melanda sejumlah daerah.

Operasi tersebut dikoordinasikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur dan telah dilaksanakan sebanyak empat kali pada 3-6 September 2026.

Baca juga: Tangani Kekeringan Pasuruan, Gubernur Khofifah Salurkan 45 Tandon dan 500 Jeriken untuk 19 Ribu Warga Terdampak

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Berdasarkan pemantauan Automatic Rain Gauge (ARG) hingga 6 September 2026, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang terpantau di 11 titik yang tersebar di enam kabupaten.

Enam daerah tersebut yakni Lumajang, Banyuwangi, Malang, Jember, Trenggalek, dan Pacitan.

“Alhamdulillah, pelaksanaan OMC menunjukkan hasil positif. Berdasarkan pemantauan melalui perangkat ARG, hujan terpantau turun di 11 titik pada enam kabupaten yang menjadi wilayah sasaran prioritas,” kata Khofifah di Surabaya, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat sekaligus mengurangi potensi terjadinya karhutla.

“Semoga hujan yang turun ini memberikan manfaat bagi masyarakat, membantu menjaga ketersediaan air, mengurangi dampak kekeringan, serta menekan risiko kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.

Dalam empat kali pelaksanaan OMC, sebanyak 3.200 kilogram bahan semai natrium klorida (NaCl) telah disebarkan ke wilayah yang dinilai memiliki potensi awan untuk dimodifikasi.

OMC pertama dilakukan pada Kamis (3/9) pukul 15.50 WIB menggunakan pesawat CASA NC212/A-2104. Operasi perdana tersebut menyasar wilayah Lumajang dan Probolinggo dengan membawa 800 kilogram bahan semai NaCl.

Sehari berikutnya, Jumat (4/9), OMC kembali dilakukan sekitar pukul 15.25 WIB. Sasaran operasi meliputi kawasan Probolinggo-Lumajang, termasuk wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), kawasan di atas Kota Batu dan Gunung Arjuno, hingga wilayah Malang.

Pada operasi kedua itu kembali ditebar 800 kilogram NaCl.

Secara keseluruhan, pelaksanaan OMC diarahkan ke sejumlah wilayah yang memiliki risiko kekeringan dan karhutla, mulai dari Malang, Kota Batu, Lumajang, Probolinggo, Jember, Bondowoso hingga Banyuwangi.

Khofifah menjelaskan, pelaksanaan OMC tidak dilakukan secara sembarangan. Waktu dan lokasi penyemaian sangat bergantung pada kondisi atmosfer serta keberadaan awan potensial yang terpantau memasuki wilayah sasaran.

Karena itu, pemantauan BMKG menjadi salah satu dasar utama dalam menentukan pelaksanaan operasi.

“OMC dilaksanakan ketika kondisi atmosfer dan ketersediaan awan potensial memungkinkan. Awan yang mulai bergerak memasuki sejumlah wilayah terus dipantau. Ketika dinilai potensial, kondisi tersebut dioptimalkan melalui OMC untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah sasaran,” jelasnya.

Dari hasil pemantauan setelah rangkaian operasi tersebut, Kabupaten Lumajang menjadi wilayah dengan sebaran hujan paling banyak. Hujan intensitas sedang tercatat di ARG Pronojiwo, sedangkan hujan ringan terpantau di Pasrujambe, Pasirian, dan Jokarto.

Baca juga: Gubernur Khofifah Gelar Pasar Murah Ke-118 di Blitar, Tegaskan Komitmen Jaga Daya Beli dan Ketahanan Keluarga

Hujan ringan juga terpantau di Kabupaten Banyuwangi melalui ARG Lidjen Jambu dan Kalibaru. Di Kabupaten Malang, hujan ringan tercatat di Sitiarjo dan Dampit.

Sementara di Jember, hujan ringan terpantau melalui ARG Rekayasa Panti. Kondisi serupa juga tercatat di ARG Trenggalek dan ARG Sudimoro, Kabupaten Pacitan.

Khofifah menegaskan, OMC merupakan salah satu bagian dari strategi penanganan kekeringan dan karhutla. Pemerintah tetap menjalankan langkah lain, seperti distribusi air bersih, penyediaan tandon, optimalisasi sumber air, serta peningkatan kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat.

“Tidak ada satu intervensi yang berdiri sendiri. Selain OMC, penanganan di lapangan melalui distribusi air bersih, penyediaan tandon, dan optimalisasi sumber air tetap berjalan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi,” katanya.

Pemprov Jatim juga terus memperkuat koordinasi dengan Kementerian Kehutanan, BMKG dan berbagai unsur terkait untuk memantau kondisi lapangan sekaligus mengevaluasi efektivitas OMC.

Khofifah menyebut kolaborasi antarlembaga menjadi penting karena ancaman karhutla dan kekeringan membutuhkan penanganan cepat dan berkelanjutan.

“Kolaborasi menjadi kunci karena penanganan karhutla dan kekeringan membutuhkan respons yang cepat, terpadu, dan berkelanjutan. Semua unsur harus bergerak sesuai peran masing-masing,” tuturnya.

Selain penanganan melalui OMC, pemerintah juga mengantisipasi potensi El Niño yang dapat meningkatkan risiko karhutla, terutama di wilayah rawan.

Baca juga: Kekeringan Meluas, Khofifah Kirim 120 Rit Air Bersih untuk Warga Blitar

Antisipasi dilakukan melalui penguatan deteksi dan peringatan dini, pemetaan wilayah rawan, peningkatan patroli, optimalisasi peran Masyarakat Peduli Api (MPA), serta memastikan kesiapan satuan tugas darat berikut personel dan peralatan.

Pemerintah juga menekankan penerapan prosedur penanganan karhutla, penetapan status keadaan darurat berdasarkan kondisi lapangan dan rekomendasi teknis, serta penegakan hukum terhadap pembakaran hutan dan lahan secara sengaja.

“Pemantauan dan respons cepat harus dilakukan secara berkelanjutan. Setiap informasi mengenai karhutla harus segera dikoordinasikan dan ditindaklanjuti agar api tidak meluas dan dampaknya dapat diminimalkan,” tegas Khofifah.

Pelaksanaan OMC berikutnya akan dilakukan secara situasional dengan mempertimbangkan perkembangan awan potensial berdasarkan hasil pemantauan dan rekomendasi BMKG.

Di tengah upaya teknis tersebut, Khofifah juga mengajak masyarakat dan tokoh agama memperkuat ikhtiar melalui Salat Istisqa untuk memohon turunnya hujan.

“Saya berharap masyarakat bersama para tokoh agama melaksanakan Salat Istisqa untuk memohon hujan. Semoga seluruh ikhtiar yang kita lakukan didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT,” harapnya.

Khofifah juga meminta masyarakat menggunakan air secara bijak serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla. Menurutnya, perubahan cuaca dapat berlangsung cepat sehingga kesiapsiagaan harus terus dijaga.

“Kami akan terus berikhtiar agar risiko karhutla dan dampak kekeringan dapat diminimalkan. Semoga setiap langkah yang dilakukan membawa manfaat, memberikan perlindungan kepada masyarakat, serta menjaga keberlangsungan aktivitas sosial dan ekonomi di wilayah terdampak,” pungkasnya.

Editor : Abdul Aziz Qomar

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru