KLIKJATIM.Com | Jakarta – Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) yang diluncurkan pemerintah menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat kemandirian energi nasional. Program tersebut juga dinilai berpotensi menekan penggunaan bahan bakar fosil sekaligus meningkatkan efisiensi biaya pembangkitan listrik.
Pengembangan PLTS 100 GWp akan dipadukan dengan Battery Energy Storage System (BESS). Teknologi penyimpanan energi ini memungkinkan listrik yang dihasilkan dari energi surya dapat dimanfaatkan secara lebih optimal untuk mendukung sistem kelistrikan nasional.
Baca juga: Lebih dari Sekadar Terang, PLTS PLN Membawa Harapan Baru ke Pulau Rengit Belitung
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pemanfaatan PLTS dan BESS dalam skala besar berpotensi memberikan penghematan hingga Rp73,9 triliun per tahun. Penghematan tersebut terutama berasal dari berkurangnya kebutuhan bahan bakar pembangkit listrik berbasis gas dan diesel.
Menurut Bahlil, saat ini masih terdapat sekitar 12,6 GW pembangkit listrik di Indonesia yang menggunakan solar. Jika kebutuhan tersebut secara bertahap digantikan dengan energi surya, konsumsi bahan bakar minyak dan ketergantungan terhadap impor BBM jenis solar dapat ditekan.
"Ini mampu menghemat APBN kita dari subsidi solar. Rata-rata kita targetkan total listrik yang ada di Indonesia masih ada 12,6 GW yang memakai solar," kata Bahlil.
Ia menyebut kebutuhan bahan bakar untuk pembangkit tersebut setara dengan produksi minyak sekitar 230 ribu hingga 250 ribu barel per hari. Karena itu, peralihan menuju energi surya dinilai dapat memberikan dampak terhadap pengurangan impor BBM sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber energi dalam negeri.
Selain efisiensi fiskal, pemerintah juga menargetkan program tersebut menjadi penggerak industri domestik. Bahlil menyebut Indonesia telah memiliki industri panel surya dan baterai penyimpanan listrik atau BESS di dalam negeri.
"Terlebih lagi, Indonesia sudah memiliki industri panel surya dan industri baterai penyimpanan listrik/BESS di dalam negeri, sehingga melalui PLTS 100 GWp kita betul-betul akan berdiri di atas kaki kita sendiri," ujarnya.
Program PLTS 100 GWp juga diproyeksikan memberikan manfaat terhadap lingkungan. Pengembangan energi surya dalam skala tersebut diperkirakan mampu menekan emisi gas rumah kaca hingga 140,16 juta ton CO₂ per tahun. Potensi pasar karbon yang dihasilkan juga diperkirakan mencapai Rp6,31 triliun.
Untuk tahap awal, pemerintah menyiapkan 14 proyek PLTS dengan total kapasitas 5,3 GWp yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia. Tahap awal ini diperkirakan dapat menghemat penggunaan bahan bakar minyak hingga 319.998 kiloliter per tahun.
Baca juga: Dukung Program PLTS 100 GWp, PLN dan Pemprov Bali Akselerasi Infrastruktur Energi Bersih
Selain itu, konsumsi gas alam diproyeksikan berkurang sekitar 35,66 ribu million standard cubic feet (MMSCF) per tahun atau setara dengan 36.980 billion british thermal unit (BBTU). Penghematan biaya listrik untuk APBN dari proyek tahap awal tersebut diperkirakan mencapai Rp4,6 triliun per tahun.
Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengatakan, pengembangan PLTS dalam skala besar menjadi bagian dari strategi untuk mengoptimalkan potensi energi surya Indonesia yang melimpah.
"Program PLTS 100 GWp merupakan bagian dari langkah strategis Pemerintah untuk mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan (EBT), khususnya energi surya yang melimpah di Indonesia," ujar Darmawan.
Menurut dia, peningkatan pemanfaatan energi surya tidak hanya bertujuan mengurangi ketergantungan pembangkit listrik terhadap bahan bakar fosil, tetapi juga mendorong efisiensi biaya energi dan meningkatkan penggunaan sumber energi domestik.
Darmawan menambahkan, penggunaan BESS menjadi bagian penting dalam pengembangan PLTS. Teknologi tersebut memungkinkan listrik dari energi surya yang produksinya bersifat intermiten dapat disimpan dan kemudian diintegrasikan secara lebih optimal ke dalam sistem kelistrikan.
Baca juga: Desa Binaan PLN di Semarang Raih Penghargaan Kampung Keluarga Berkualitas Terbaik Nasional 2026
Program tersebut juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan rantai pasok industri nasional.
Secara keseluruhan, PLTS 100 GWp diproyeksikan membuka sekitar 5,518 juta lapangan kerja. Jumlah tersebut terdiri dari sekitar 3,465 juta lapangan kerja di sektor konstruksi dan 2,053 juta lapangan kerja di sektor manufaktur.
"Pengembangan PLTS merupakan salah satu upaya dalam membangun sistem energi yang lebih mandiri, efisien, dan berkelanjutan," kata Darmawan.
Ia berharap pengembangan energi surya tidak hanya mempercepat transisi energi bersih, tetapi juga memberikan dampak ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Editor : Abdul Aziz Qomar