KLIKJATIM.Com | Surabaya – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan bahwa kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) tidak boleh dipandang semata sebagai instrumen untuk meningkatkan efisiensi atau memaksimalkan keuntungan perusahaan. Lebih dari itu, AI harus mampu menciptakan sustainable value atau nilai yang berkelanjutan dengan tetap menempatkan manusia sebagai pusat transformasi.
Baca juga: Jatim Bidik Kolaborasi Internasional untuk Perkuat Ekosistem Ekonomi Syariah
Hal tersebut disampaikan Wagub Emil saat menjadi keynote speaker bersama Ilham Habibie pada Oxford × INSEAD Collaborative Debate Night yang diselenggarakan Oxford Society Indonesia (OXSI) bersama INSEAD Alumni Association Indonesia di University Club Jakarta, Kamis (6/8) malam
Forum tersebut mempertemukan para alumni University of Oxford dan INSEAD dalam sebuah debat bergaya Oxford Union dengan mengangkat mosi "The AI Dilemma: This House Believes that Maximising Shareholders Value Justifies Replacing Human Labour with AI."
Mengawali paparannya, Emil menguraikan bahwa AI telah berkembang menjadi salah satu pendorong utama transformasi ekonomi global. Dunia usaha memanfaatkan teknologi tersebut untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat proses bisnis, dan memperkuat daya saing. Namun, menurutnya, di balik peluang tersebut terdapat tantangan yang tidak kecil, terutama terhadap perubahan struktur pekerjaan dan hubungan antara teknologi dengan manusia.
"Perdebatan mengenai AI seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah teknologi mampu menggantikan pekerjaan manusia. Yang lebih penting adalah bagaimana kita memastikan AI menjadi alat untuk memperkuat kapasitas manusia sekaligus menciptakan nilai yang lebih besar bagi masyarakat," kata Emil.
Menurut Emil, transformasi digital akan melahirkan pemenang bukan semata karena penguasaan teknologi, melainkan karena kemampuan membangun kualitas sumber daya manusia.
Di tengah pesatnya perkembangan AI, kompetensi seperti kepemimpinan, kreativitas, empati, kemampuan berkolaborasi, serta pengambilan keputusan strategis akan tetap menjadi keunggulan yang tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh mesin. Oleh sebab itu, investasi pada pengembangan manusia harus berjalan beriringan dengan investasi pada teknologi.
Ia menilai paradigma dunia usaha juga perlu bergeser. Jika selama ini keberhasilan sering diukur dari kemampuan memaksimalkan shareholder value, maka ke depan perusahaan dituntut menciptakan sustainable value yang memberi manfaat tidak hanya bagi pemegang saham, tetapi juga bagi pekerja, konsumen, masyarakat, dan lingkungan. Dengan pendekatan tersebut, kemajuan teknologi tidak sekadar menghasilkan efisiensi, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi dan sosial.
"Efisiensi adalah konsekuensi dari inovasi, tetapi bukan tujuan akhirnya. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika teknologi mampu meningkatkan kualitas hidup manusia dan menghadirkan manfaat yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan," ujar Emil.
Baca juga: Pemprov Jatim Tanggung Biaya Perawatan Korban Kebakaran KM Mutiara Sentosa 2
Lebih lanjut, Emil mengatakan bahwa perkembangan AI harus direspons melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan komunitas ilmiah. Kolaborasi tersebut penting untuk memastikan transformasi digital berjalan secara inklusif, membuka peluang ekonomi baru, sekaligus mempersiapkan masyarakat menghadapi perubahan lanskap pekerjaan di masa depan.
Forum Oxford × INSEAD Collaborative Debate Night sendiri menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai dampak AI terhadap dunia usaha, perdagangan, dan perekonomian. Selain penyampaian keynote speech, kegiatan juga diisi dengan debat ala Oxford Union yang melibatkan para alumni kedua institusi serta sesi debat terbuka sebagai wadah menguji berbagai perspektif mengenai masa depan hubungan antara teknologi dan manusia.
Usai mengikuti forum tersebut, Emil mengaku memperoleh banyak perspektif baru dari diskusi yang berlangsung dinamis dan sarat argumentasi akademik. Ia mengatakan kesempatan berbicara bersama Ilham Habibie menjadi momentum untuk menyampaikan perspektif pemerintah daerah terkait pemanfaatan AI, khususnya dampaknya terhadap masyarakat, sektor industri, dan perumusan kebijakan publik.
"Diskusi ini sangat menarik. Saya bersama Pak Ilham Habibie mendapat kesempatan berbagi pandangan, dan saya mewakili perspektif pemerintah daerah mengenai penggunaan AI serta dampaknya bagi masyarakat, dunia industri, dan kebijakan publik. Sementara itu, para alumni Oxford dan INSEAD memperdebatkan isu ini dengan kualitas intelektual dan akademik yang sangat tinggi sehingga menjadi masukan yang sangat berharga bagi kami," ungkapnya.
Menurut Emil, berbagai pandangan yang mengemuka dalam forum tersebut memberikan gambaran yang semakin komprehensif mengenai langkah yang perlu ditempuh pemerintah dalam menyikapi semakin luasnya pemanfaatan AI di berbagai lini kehidupan, termasuk di Jawa Timur. Ia juga berharap jejaring yang terbangun melalui forum tersebut dapat menjadi modal kolaborasi untuk mendorong inovasi dan pengembangan kebijakan berbasis teknologi yang tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat.
"Diskusi ini memberi banyak pelajaran bagi kami dalam menyikapi semakin maraknya penggunaan AI di berbagai sektor kehidupan di Jawa Timur. Mudah-mudahan jejaring yang terbangun bersama para alumni yang hadir hari ini juga dapat memberikan manfaat bagi pengembangan kolaborasi di masa mendatang," tuturnya.
Menutup paparannya, Emil mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memandang AI sebagai mitra dalam pembangunan, bukan sekadar alat otomatisasi. Menurutnya, keberhasilan transformasi digital pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan menghadirkan keseimbangan antara kemajuan teknologi, pembangunan manusia, dan keberlanjutan ekonomi.
"Ketika AI mampu memperkuat manusia, bukan menggantikannya, di situlah teknologi benar-benar menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi masa depan," pungkas Emil.
Editor : Wahyudi