KLIKJATIM.Com | Jember – Berasal dari daerah bukan berarti menjadi penghalang untuk berprestasi di tingkat dunia. Hal itu dibuktikan Rikky Ihza Pratama, pemuda asal Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, yang berhasil mendapat pengakuan dari sejumlah lembaga internasional atas kontribusinya di bidang keamanan siber (cyber security).
Di usia 28 tahun, Rikky berkarier sebagai Software Quality Assurance (QA) di sebuah perusahaan teknologi. Alumni Program D4 Teknik Informatika Politeknik Negeri Jember (Polije) tersebut juga telah menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen Sistem Informasi di BINUS University.
Baca juga: Larangan Wartawan Liput Rapat KUA-PPAS APBD 2027, Dinilai Langgar Asas Transparansi
Di luar pekerjaannya, Rikky aktif melakukan responsible vulnerability disclosure, yaitu menemukan dan melaporkan celah keamanan pada sistem digital secara bertanggung jawab agar dapat segera diperbaiki sebelum dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
"Awalnya saya mengira dunia IT hanya soal membuat program atau menulis kode. Setelah terjun langsung, saya menyadari bahwa yang jauh lebih penting adalah memastikan aplikasi benar-benar aman, stabil, dan nyaman digunakan masyarakat," ujarnya, Kamis (30/7/2026).
Menurut Rikky, tugas seorang Software QA bukan hanya mencari kesalahan pada aplikasi, tetapi memastikan seluruh sistem berjalan sebagaimana mestinya sebelum digunakan publik.
"Kalau developer membangun rumahnya, QA memastikan pintunya bisa dibuka, listriknya aman, atapnya tidak bocor, sehingga produk yang diterima pengguna benar-benar berkualitas," katanya.
Prinsip tersebut pernah diterapkannya ketika menemukan bug kritis menjelang peluncuran sebuah aplikasi. Bersama tim pengembang, ia memilih menunda peluncuran agar masalah tersebut dapat diselesaikan lebih dahulu.
"Memperbaiki masalah sebelum aplikasi digunakan publik jauh lebih murah dan aman daripada harus menangani dampaknya setelah dipakai jutaan pengguna," ungkapnya.
Baca juga: Jejak Minyak Tua Jadi Andalan, Asesor UNESCO Turun Gunung Nilai Geopark Bojonegoro
Dedikasinya di bidang keamanan digital mengantarkan Rikky menerima apresiasi dari berbagai institusi dunia. Namanya tercatat dalam Hall of Fame sejumlah lembaga internasional, seperti NASA, UNESCO, CERT-EU (Uni Eropa), U.S. Department of Energy, hingga NVIDIA, setelah membantu menemukan dan melaporkan celah keamanan pada sistem mereka.
Di tingkat nasional, kontribusinya juga mendapat pengakuan dari berbagai instansi, antara lain PT KAI, TransJakarta, Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama, DPR RI, Mahkamah Konstitusi, Komdigi, KPK, hingga Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Meski telah mengantongi banyak penghargaan, Rikky menilai pencapaian terbesarnya bukanlah sertifikat ataupun namanya yang tercantum dalam Hall of Fame.
"Kepuasan terbesar saya adalah ketika sistem yang digunakan masyarakat menjadi lebih aman karena laporan yang saya kirimkan. Penghargaan itu hanya bonus," tuturnya.
Baca juga: Diuji Tim Asesor UNESCO, Geopark Bojonegoro Selangkah Lagi Sandang Status Kelas Dunia
Rikky meyakini generasi muda di daerah memiliki peluang yang sama besar untuk bersaing di industri teknologi global. Menurutnya, akses internet, komunitas, sumber belajar terbuka, hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah membuka kesempatan bagi siapa saja untuk meningkatkan kemampuan.
"Yang paling sering menjadi penghambat bukan fasilitas, tetapi rasa minder. Sekarang perusahaan global lebih melihat kemampuan, portofolio, dan konsistensi seseorang, bukan berasal dari kota mana," katanya.
Ia mengaku seluruh proses belajarnya dimulai secara otodidak dari Jember dan tidak lepas dari berbagai kegagalan. Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk terus belajar, membangun portofolio, serta tidak takut mencoba hal baru.
"Mulailah belajar dari sekarang. Manfaatkan internet sebaik mungkin, aktif di komunitas, dan jangan berhenti mencoba. Di dunia teknologi, yang berhasil bukan selalu yang paling pintar, tetapi mereka yang mau terus belajar dan bertumbuh," pungkasnya.
Editor : Abdul Aziz Qomar