Maharaya Festival 2026 di Sumenep, Saat Jalan Raya Tak Lagi Sekadar Tempat Lewat

Reporter : Hendra
TARI : Seorang penari menampilkan koreografi di jalan raya sebagai representasi konsep Maharaya Festival 2026 yang menjadikan ruang publik sebagai inspirasi utama dalam penciptaan karya seni pertunjukan. (doc. Istimewa/Klikjatim.Com)

KLIKJATIM.Com | Sumenep - Maharaya Festival 2026 membawa pendekatan berbeda dalam dunia seni pertunjukan. Alih-alih memanfaatkan jalan raya hanya sebagai lokasi pementasan, festival ini justru menjadikan ruang publik tersebut sebagai sumber utama lahirnya ide, konsep, hingga penyusunan koreografi sejak awal proses kreatif.


Konsep itu menjadi ciri khas penyelenggaraan Maharaya Festival tahun ini. Para koreografer didorong menciptakan karya yang tumbuh dari karakter jalan raya, sehingga setiap elemen pertunjukan disesuaikan dengan kondisi ruang tempat karya tersebut dipentaskan.

Baca juga: Diduga Dipicu Pembakaran Sampah, Tiga Rumah di Sumenep Hangus Dilalap Api


Dengan pendekatan tersebut, penyusunan koreografi tidak lagi berangkat dari panggung konvensional. Seluruh proses kreatif, mulai dari eksplorasi gerak, pembentukan pola lantai, penempatan penari, arah hadap, hingga interaksi dengan penonton dirancang berdasarkan karakter jalan raya sebagai ruang artistik.


Salah satu inisiator Maharaya Festival, Nur Khalis mengatakan, pendekatan tersebut menjadi pembeda dibandingkan praktik pertunjukan tari yang selama ini kerap ditemui di ruang terbuka.


"Selama ini banyak pertunjukan tari di jalan raya, sebenarnya merupakan karya yang sebelumnya diciptakan untuk panggung konvensional, kemudian hanya dipindahkan ke ruang terbuka. Kami ingin membalik cara pandang itu. Jalan raya bukan sekadar tempat mempertunjukkan karya, tetapi menjadi ruang yang sejak awal melahirkan ide dan bahasa artistik koreografi," kata Khalis di Sumenep, Minggu (12/7).


Menurutnya, karakter sebuah ruang memiliki pengaruh besar terhadap proses penciptaan karya seni. Karena itu, koreografi yang sejak awal disiapkan untuk dipentaskan di jalan raya akan menghasilkan komposisi, dinamika, dan pengalaman artistik yang berbeda dibandingkan karya yang dibuat untuk panggung tertutup.


"Pilihan gerak, arah hadap penari, komposisi pertunjukan, bahkan cara penonton menikmati karya tentu akan berbeda. Kami berharap Sumenep dapat menjadi daerah yang memulai tradisi penciptaan koreografi berbasis jalan raya," lanjutnya.

Baca juga: Polisi Dalami Dugaan Keterlibatan Pihak Lain di Kasus Penyalahgunaan KTP ASN Sumenep


Melalui gagasan tersebut, Maharaya Festival berupaya menghadirkan perspektif baru dalam pengembangan seni pertunjukan. Jalan raya tidak lagi dipahami sekadar sebagai tempat berlangsungnya pertunjukan, melainkan menjadi bagian penting yang membentuk identitas dan karakter sebuah karya tari.


Selain menyuguhkan berbagai pertunjukan seni, festival ini juga dirancang sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan sektor seni, ekonomi kreatif, pariwisata, pelaku UMKM, dan masyarakat dalam satu rangkaian kegiatan yang berlangsung selama tiga hari.


Nur Khalis berharap Maharaya Festival mampu berkembang menjadi wadah lahirnya berbagai eksperimen artistik yang terus berkelanjutan, bukan hanya menjadi agenda tahunan semata.

Baca juga: MPLS di Sumenep Wajib Pakai Bahasa Madura, Ini Alasannya


"Kami ingin Maharaya menjadi ruang lahirnya cara-cara baru dalam berkarya. Semoga festival ini dapat menginspirasi para seniman untuk terus bereksperimen, sekaligus memperkuat posisi Sumenep sebagai daerah yang berani menawarkan inovasi dalam dunia seni pertunjukan," tuturnya.


Maharaya Festival 2026 mengangkat tema "Gelombang dari Pesisir" dan dijadwalkan berlangsung pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Kabupaten Sumenep, Madura.


Kegiatan tersebut masuk dalam agenda Sumenep Calendar of Event 2026 dengan melibatkan akademisi dan praktisi tari, komunitas seni, sanggar, pelaku UMKM, masyarakat, serta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep.

Editor : Ratno

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru