KLIKJATIM.Com | Jember – Di tengah geliat aktivitas di pusat Kota Jember, masih ada keluarga yang harus berjuang keras menghadapi tekanan ekonomi. Kuswantoro (50), atau yang akrab disapa Pak Iwan, kini menjalani kehidupan serba terbatas bersama istri, dua anak, dan ibu mertuanya di sebuah rumah kontrakan sederhana di Lingkungan Sawahan, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates.
Rumah berukuran sekitar 5 x 5 meter itu menjadi tempat berteduh bagi lima anggota keluarga. Selain harus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Pak Iwan juga merawat ibu mertuanya yang telah tiga tahun menderita stroke serta mendampingi sang istri, Puji Rahayu Maulidiyah (44), yang tengah menjalani pemulihan setelah menjalani operasi kanker payudara.
Baca juga: 19 Kebakaran Melanda Jember Sepanjang Juni Hingga Awal Juli 2026
Kesulitan ekonomi keluarga bermula saat pandemi Covid-19 pada 2020. Sebelum itu, Pak Iwan mengandalkan penghasilan dari usaha telur gulung yang cukup ramai pembeli. Ia juga sesekali bekerja sebagai sopir yang mengantar pasien rujukan Dinas Sosial Jember menuju sejumlah rumah sakit di Surabaya dan Mojokerto.
Namun pandemi membuat usahanya berhenti total. Pekerjaan sebagai sopir pun ikut terhenti, sehingga keluarga kehilangan sumber penghasilan utama.
Cobaan semakin berat ketika keluarga harus menjual rumah milik mertuanya untuk membiayai pengobatan ayah mertua yang mengidap penyakit jantung koroner hingga akhirnya meninggal dunia pada 2022. Sejak itu mereka tinggal di rumah kontrakan dengan kondisi ekonomi yang terus memburuk.
Pada September 2025, ujian kembali datang setelah sang istri didiagnosis menderita kanker payudara. Ia telah menjalani dua kali operasi di RSUD dr. Soebandi Jember. Berkat program Universal Health Coverage (UHC) Kabupaten Jember, seluruh biaya pengobatan, termasuk operasi dan transportasi, ditanggung pemerintah sehingga keluarga tidak terbebani biaya medis. Kini kondisi istrinya mulai membaik meski masih menjalani pemulihan.
Meski biaya pengobatan telah terbantu, kebutuhan sehari-hari justru menjadi persoalan yang semakin berat. Pak Iwan mengaku menunggak pembayaran kontrakan rumah selama empat bulan. Selain itu, tagihan PDAM yang belum terbayar selama setahun telah mencapai sekitar Rp2,5 juta. Ia mendapat keringanan dengan sistem cicilan sekitar Rp188 ribu setiap bulan, di luar tagihan air yang terus berjalan.
"Tunggakan air sekitar Rp2,5 juta itu menjadi beban pikiran saya. Sampai susah tidur karena belum mampu membayarnya. Saya juga masih menunggak kontrakan rumah. Kalau ada bantuan, saya ingin dipakai melunasi kebutuhan pokok dulu, setelah itu saya ingin kembali usaha," ujar Pak Iwan.
Baca juga: Duga Ada Korupsi ADD dan Aset Desa, Warga Laporkan Kades Rowo Indah ke Kejari Jember
Saat ini, penghasilannya tidak menentu. Ia hanya sesekali mendapat pekerjaan mencuci mobil atau membantu pekerjaan ringan dengan upah sekitar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu. Berbekal modal Rp60 ribu dari kakaknya, ia mencoba berjualan kerupuk, kopi, dan minuman dingin di sekitar proyek bangunan. Namun hasil yang diperoleh belum mampu memenuhi kebutuhan keluarga maupun biaya pendidikan kedua anaknya yang masih bersekolah di SD dan SMK negeri.
Kondisi tersebut membuat keluarganya beberapa kali kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Bahkan mereka mengaku pernah tidak bisa memasak karena kehabisan gas elpiji.
"Kalau ada rezeki ya makan. Kalau tidak ada, ya menunggu. Sekarang saja gas habis dan belum bisa beli," katanya.
Berharap memperoleh jalan keluar, Pak Iwan kemudian menyampaikan keluhannya melalui layanan pengaduan "Wadul Guse". Ia berharap ada bantuan untuk membayar biaya kontrakan rumah agar penghasilannya dapat difokuskan sebagai modal memulai usaha kembali. Namun, berdasarkan tanggapan yang diterima, permohonan tersebut dikategorikan sebagai persoalan pribadi dan diteruskan kepada dinas terkait untuk ditindaklanjuti.
Baca juga: Pria di Jember Ditemukan Meninggal di Pekarangan Rumah, Diduga Dipicu Sakit Menahun
Pak Iwan juga mengaku belum pernah menerima bantuan sosial reguler seperti Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Berdasarkan data yang dimilikinya, keluarganya masih berada pada kategori desil 5 dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), sehingga belum memenuhi syarat sebagai penerima bantuan tersebut.
"Saya hanya ingin bisa membayar kontrakan rumah setidaknya untuk satu tahun. Kalau tempat tinggal sudah aman, penghasilan yang saya dapat bisa dipakai membuka usaha lagi. Saya tidak ingin terus bergantung pada bantuan," ujarnya.
Kisah keluarga Pak Iwan menjadi gambaran bahwa dampak pandemi masih menyisakan persoalan ekonomi bagi sebagian masyarakat. Di tengah beban penyakit yang menimpa anggota keluarga dan hilangnya mata pencaharian, mereka berharap memperoleh bantuan yang mampu menjadi titik awal untuk kembali mandiri dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Editor : Abdul Aziz Qomar