Transformasi K3 di Era Hybrid: Keselamatan Masa Depan Bukan Lagi Soal Tempat, Tapi Sistem Kerja

Reporter : Much Taufiqurachman Wahyudi
Soroti Fenomena Always On Culture, Balai K3 Surabaya Ingatkan Bahaya Burnout di Era Digital

KLIKJATIM.Com | Surabaya – Dunia kerja mengalami pergeseran fundamental. Aktivitas bekerja yang dahulu terbatas di ruang kantor, kini telah bertransformasi menjadi fleksibel—bisa dilakukan dari rumah, kafe, hingga dalam perjalanan. Namun, fleksibilitas ini membawa tantangan baru bagi keselamatan dan kesehatan kerja (K3), terutama terkait risiko psikososial dan kelelahan digital.

Isu krusial ini menjadi pembahasan utama dalam Safety Insight bertema “WFH, Hybrid Working & Masa Depan K3: Dari Workplace Safety menuju Work System Safety” yang diselenggarakan Balai K3 Surabaya secara daring, Jumat (8/5/2026).

Baca juga: Dugaan Korupsi Klaim JKN Naik Penyidikan, Kejari Jember Usut Fraud di Tiga Rumah Sakit

Direktur Bina Pengujian K3 Kemnaker RI, Muchamad Yusuf, menegaskan bahwa K3 masa kini tidak cukup hanya bicara soal fisik dan kepatuhan administratif.

“K3 harus menjadi budaya kerja sehari-hari. Organisasi harus mulai memperhatikan aspek kesehatan mental, psikososial, serta kualitas hidup pekerja sebagai bagian dari sistem keselamatan modern yang adaptif dan humanis,” tegas Yusuf.

Wakil Ketua Dewan K3 Provinsi Jawa Timur, Edi Priyanto, selaku narasumber utama, memaparkan bahwa risiko kerja modern kini banyak yang bersifat kumulatif dan tidak terlihat. Fenomena always on culture atau tuntutan untuk selalu terkoneksi dengan pekerjaan tanpa jeda menjadi ancaman nyata bagi produktivitas dan kesehatan.

“Dulu tempat kerja jelas, risikonya bisa diaudit. Sekarang tempat kerja bisa di mana saja, bahkan di atas kasur. Tantangan terbesarnya bukan lagi sekadar kecelakaan fisik, tapi kelelahan digital (digital fatigue) dan pola kerja tanpa batas yang perlahan memicu incident operasional akibat human error,” ungkap Edi.

Baca juga: Barcode Petani Disalahgunakan, Sopir Truk Jadi Tersangka Kasus Penyelewengan Solar Subsidi di Jember

Ia menambahkan bahwa burnout kini bukan lagi sekadar masalah pribadi, melainkan telah diklasifikasikan sebagai occupational phenomenon atau fenomena dalam dunia kerja modern yang harus dikelola secara profesional oleh perusahaan.

Dalam forum tersebut, muncul dorongan kuat untuk mengubah paradigma dari workplace safety (keselamatan tempat kerja) menjadi work system safety (keselamatan sistem kerja). Keselamatan masa depan sangat dipengaruhi oleh budaya organisasi, pola komunikasi, hingga kualitas kepemimpinan.

Sebagai langkah konkret, Edi mendorong perusahaan untuk mulai menerapkan kebijakan strategis. Kebijakan tersebut seperti Right to Disconnect yakni hak pekerja untuk memutus koneksi pekerjaan di luar jam kerja, No Meeting Day atau hari tanpa rapat untuk mengurangi beban kognitif, Virtual Ergonomic Coaching pendampingan posisi kerja ergonomis saat WFH, dan Psychological Safety menciptakan lingkungan di mana pekerja merasa aman secara mental.

Baca juga: Pimpin Panen di Madiun, Gubernur Khofifah Targetkan Jatim Ekspor Beras ke Pasar Global

Peran pimpinan pun dituntut berubah. Pemimpin masa kini tidak lagi sekadar menjadi pengawas tugas, tetapi harus mampu menjadi system designer yang menjaga ritme kerja tim, mendeteksi tanda-tanda kelelahan sejak dini, serta menjaga batas digital yang sehat.

“Jika sesuatu tidak diukur maka tidak terlihat. Jika tidak terlihat maka tidak dapat dikelola. Organisasi harus mulai membangun sistem kerja yang sehat, aman, dan manusiawi demi keberlanjutan bisnis di era digital,” pungkas Edi Priyanto.

Editor : Fatih

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru